Wayang Papua, Perwujudan Cinta Kasih Indonesia dan Papua
Wayang Papua adalah simbol persatuan dan kesatuan Indonesia. Bisa juga dimaknai sebagai perwujudan Cinta Kasih antara Papua - Indonesia
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Wayang Papua adalah simbol persatuan dan kesatuan Indonesia. Bisa juga dimaknai sebagai perwujudan Cinta Kasih antara Papua - Indonesia. Papua adalah Indonesia dan Indonesia adalah Papua.
Demikian pernyataan Lejar Daniartana Hukubun, saat ditanya makna karya Wayang Papua miliknya.
Lugas dan tegas. Atas ide, imajinasi dan makna luhur lewat karya seni miliknya di usia yang masih muda ini, Lejar diganjar penghargaan sebagai Young Rising Artist Award di pameran seni rupa Nandur Srawung edisi ke-6 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (18/9/2019) malam.
“Senang dan tentunya bangga. Ini adalah bentuk penghargaan luar biasa bagi saya. Penghargaan ini sekaligus menjadi motivasi saya untuk lebih maju terutama bersama Wayang Papua. Semoga penghargaan serupa bisa terus diberikan kepada para perupa tanah air agar semakin menegaskan Yogyakarta sebagai magnet seni khususnya seni rupa di Indonesia,” kata Lejar.
• UGM Bakal Menggelar Festival Musik Gamelan 4.0, Tampilkan Seniman Gamelan Lintas Genre
Menurut Lejar, ide dari pembuatan karya Wayang Papua miliknya berasal dari keluarga.
Sang ayah, Penias Hukubun, meski berdarah Maluku namun secara psikologis adalah orang Papua karena ia lahir dan tumbuh besar di Merauke, Papua.
Lalu sang ibu, Brigita Tri Suerni lahir dan besar di Yogyakarta. Perbedaan suku ayah dan ibu itu membuat Lejar ingin membuat karya.
Konsep besarnya, adalah menggabungkan dua hal berbeda. Mengutip pernyataan Steve Jobs oleh Dwi Mariyanto lewat buku berudul Art and Levitation : Seni dalam Cakrawala Quantum, Lejar meyakini bahwa menggabungkan dua hal berbeda akan melahirkan hal yang baru. Dua hal berbeda ini cukup terwakili dari perbedaan suku antara ayah dari Papua dan ibu dari Jawa.
• Pesan Cinta untuk Papua dari Slemania
“Proses penciptaan ornamen Wayang Papua ini butuh waktu lama karna ormamen Wayang Jawa rumit sementara ornamen Papua lebih sederhana. Menghadirkan bentuk dan karakter fisik yang sesuai butuh berfikir keras untuk menghadirkan figur Jawa tapi juga Papua,” kata Lejar yang sempat mengenyam pendidikan S1 dan S2 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.
Pada akhirnya, buah imajinasi Lejar diwujudkan dengan penciptaan karakter wayang namun lebih ditonjolkan motif dan warna Papua.
Karakter wayang juga berbentuk tubuh yang lebih besar, kuat dan diperkuat dengan karakter Papua seperti kriting, mancung dan tinggi. Karakter wayang mewakili Papua, dan wayang itu sendiri mewakili Yogyakarta dan Jawa.
Saat momen Nandur Srawung di TBY kemarin, Lejar memamerkan karya Wayang Papua yang dituangkan lewat media batik. Ada dua karya batik Wayang Papua karya Lejar yang dipajang. Masing-masing berjudul Pace Sedang Lari dan Pace Naik Babi. Sesuai pernyataan Lejar, dua karakter wayang dalam karyanya itu bertubuh besar dan berambut kriting mewakili Papua.
• Merti Desa Bugel, Sepuluh Gunungan Hasil Bumi Ludes Dalam Waktu Sekejap
Hingga saat ini, sudah ada sepuluh karakter Wayang Papua yang dibuat oleh Lejar. Karakter tersebut mewakili perbedaan tipikal manusia dalam kehidupan, mulai dari karakter jenaka, lucu, galak, lemah lembut dan juga karakter perhatian. Mayoritas, karya Lejar lewat Wayang Papua dibuat di atas media kulit layaknya Wayang Jawa pada umumnya.
“Ke depan saya ingin membuat karya dengan karakter yang lebih beragam lagi dan bisa untuk dimainkan seperti lakon-lakon dalam Wayang Jawa. Saya juga ingin membuat Wayang Papua dengan media yang lebih beragam. Bisa plastik atau kertas namun dengan kualitas yang juga bagus. Karena bahan kulit ini butuh biaya yang cukup mahal,” kata Lejar.(Tribunjogja I Susilo Wahid)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/wayang-papua-perwujudan-cinta-kasih-indonesia-dan-papua.jpg)