Pendidikan

Perusahaan Rintisan Perlu Dilandasi Kinerja Fundamental yang Kokoh Agar Tidak Kolaps

Jika perusahaan tidak ingin kolaps, maka harus benar-benar bisa menciptakan inovasi yang mengubah peta persaingan, menciptakan segmen pasar baru, dll.

Perusahaan Rintisan Perlu Dilandasi Kinerja Fundamental yang Kokoh Agar Tidak Kolaps
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Peringatan Dies Natalis ke-64 FEB UGM yang diadakan di Gedung Pusat Pembelajaran FEB UGM pada Kamis (19/9/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Saat ini, layanan dari perusahaan-perusahaan rintisan yang dalam waktu dekat telah menjadi unicorn atau bahkan decacorn telah begitu luas dan bersentuhan langsung dengan masyarakat di hampir berbagai kesempatan.

Tidak hanya itu, perusahaan ini juga telah melibatkan mitra bisnis individual yang banyak, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat, serta seringkali mampu menciptakan efisiensi baik waktu dan biaya bagi kehidupan masyarakat.

Meriahnya Hari Kedua Grebek Pasar Isuzu Traga di Pasar Suko Sewukan Magelang

Akan tetapi, ketika perusahaan rintisan, atau yang telah menjadi unicorn atau decacorn tidak dilandasi dengan kinerja fundamental yang kokoh, patut untuk diwaspadai.

Pakar Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof Agus Sartono dalam orasi ilmiah yang disampaikan di momen Peringatan Dies Natalis ke-64 FEB UGM menerangkan, apabila perusahaan semacam ini kemudian kolaps, maka dampaknya akan sangat luas bagi perekonomian negara maupun masyarakat.

Oleh karenanya, jika perusahaan ini tidak ingin kolaps, maka harus benar-benar bisa menciptakan inovasi yang mengubah peta persaingan, menciptakan segmen pasar baru dan sebagainya.

"Pelajaran dari perusahaan rintisan yang mampu bertahan dan kemudian benar-benar menjadi perusahaan yang profitable seperti Apple, Amazon, Microsoft dan sebagainya adalah mereka benar-benar menciptakan proses bisnis yang sama sekali baru, yang lebih efisien," ungkapnya pada Kamis (19/9/2019).

UGM Masuk Peringkat Universitas Dunia 2020 Versi THE

Menurutnya, start-up yang sekedar meniru produk/layanan yang sudah ada diyakini tidak akan sukses.

Agus menjelaskan, studi yang dilakukan oleh Lembaga CB Insight mengungkapkan, kegagalan yang dialami oleh perusahaan rintisan umumnya disebabkan oleh beberapa hal dan dapat muncul secara bersamaan.

Penyebab kegagalan tersebut diantaranya, tidak adanya kebutuhan pasar, kekurangan kas, tim yang gagal, kalah bersaing serta masalah harga dan biaya.

Menurutnya, sebanyak 42% kasus kegagalan diakibatkan oleh start-up yang hanya menawarkan teknologi canggih atau memiliki ekpertise mumpuni, namun tidak dapat menawarkan solusi (business model) dengan skala yang memadai.

Kampus Terbaik, Universitas Terbaik di Indonesia, Rangking Dunia, Ada UI, ITB, UGM

"Sebagai akademisi, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan hanyalah sebagai pemicu untuk diteliti dan dipelajari, sehingga peristiwa seperti pecahnya gelembung perusahaan dotcom pada tahun 2000 tidak terulang," terangnya.

Agus mengungkapkan, sebelumnya kemunculan perusahaan digital yang diikuti dengan kejatuhan industri pernah terjadi sekitar akhir 1990.

Kala itu bermunculan berbagai perusahaan rintisan yang dikenal dengan perusahaan dotcom.

"Apakah bermunculannya berbagai start-up teknologi sekarang ini adalah sekadar gelembung yang nantinya akan pecah? Kendati demikian, perusahaan-perusahaan digital tersebut dituntut untuk terus berinovasi dan tidak berhenti, saat mencapai zona nyaman. Alasan itu yang kemudian menjadikan perusahaan digital menjadi terdepan dalam menganggarkan dana untuk kegiatan penelitian dan pengembangan," katanya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved