Jika Mbah Pani Pati Laku Topo Bisu, di Jogja Ada Topo Bisu Lampah Mubeng Benteng
Tradisi yang telah dilaksanakan secara turun temurun tersebut sudah ada sejak Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk menyambut Malam Satu Suro.
Perjalanan berlangsung dalam keheningan total sebagai simbol keprihatinan sekaligus evaluasi terhadap segala perilaku dan perbuatan selama setahun terakhir.
Jarak yang akan ditempuh dalam ritual topo bisu mubeng beteng ini diperkirakan mencapai 4 km.
Rute prosesi arak-arakan berawal dari Bangsal Pancaniti, melewati Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman.
Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim, Suryowijayan, Pojok Beteng Kulon, Jalan MT Haryono, Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, dan berakhir di Alun-alun Utara.
• Melihat Sakralnya Jamasan Pusaka Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Puncak Suroloyo
Topo Pendem
Selain Mbah Pani, topo pendem juga pernah dilakukan oleh seorang warga Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar pada 2014 lalu.
Selain unik, ritual yang dilakukan bahkan menimbulkan cerita horor.
Ia adalah Sutarto (55) warga Kebaksari, Desa Kebak, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, yang nekat mengubur diri selama lima hari untuk melakukan topo ngluweng/pendem di pekarangan rumahnya pada tahun 2014 lalu.
Aksi topo pendem ini dilakukan karena dirinya ingin berdoa supaya keluarganya, yakni anak dan cucunya dapat hidup bahagia dan sejahtera.
"Tujuan saya tidak cari ilmu, tetapi hanya ingin berdoa supaya anak cucu dapat hidup bahagia dan sejahtera," ujar Sutarto, Rabu (10/12/2014).
Kakek dua anak dan tiga cucu ini menuturkan dirinya membuat Kuburan sedalam dua meter.
Di dalam kuburan dilapisi papan sepanjang 1,5 meter untuk semedi dan setengah meter bagian atas ditimbun tanah. Adapun dalamnya 125 centimeter atau 1,25 meter
Namun di pinggir liang kubur ini diberi pralon yang fungsinya sebagai ventilasi udara dan untuk penyuplai telur dan minuman.
Aksi topo pendem dia lakukan mulai Kamis (4/12/2014) malam usai Maghrib atau pada malam Jumat Pon, dan menyudahi pertapaannya pada Selasa (9/12/2014) malam.
"Sebenarnya saya ingin delapan hari delapan malam, tetapi karena anak saya sama tetangga saya ingin supaya saya keluar pada hari kelima takutnya saya lemas di dalam," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jika-mbah-pani-pati-laku-topo-bisu-di-jogja-ada-topo-bisu-lampah-mubeng-benteng.jpg)