Jika Mbah Pani Pati Laku Topo Bisu, di Jogja Ada Topo Bisu Lampah Mubeng Benteng

Tradisi yang telah dilaksanakan secara turun temurun tersebut sudah ada sejak Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk menyambut Malam Satu Suro.

Tayang:
Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com | Santo Ari
Topo Bisu Lampah Mubeng Benteng Keraton Yogyakarta 

Topo pendem atau tapa pendem yang dilakukan mbah Pani di Bendar Juwana Pati telah menjadi perhatian warga sekitar. Supani alias Mbah Pani melakukan topo pendem di dalam rumah di desanya, Bendar RT 3 RW 1 Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jateng, Senin (16/9/2019) selepas magrib.

.
.

Supani alias Mbah Pani di dalam rumah di desanya, Bendar RT 3 RW 1 Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jateng, Senin (16/9/2019)
Supani alias Mbah Pani di dalam rumah di desanya, Bendar RT 3 RW 1 Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jateng, Senin (16/9/2019) (Tribunjateng)

Ritual ke-10 ini dimulai Senin malam hingga lima hari ke depan. Topo pendem adalah biasanya dihubungkan dengan topo ngeluweng dan topo sungsang.

Topo sungsang biasa dilakukan dengan membalikkan tubuh secara tergantung posisi seperti bayi sungsang kepala di bawaha kaki di atas. Biasanya kakinya menggantung di dahan pohon seperti kelelawar atau kalong.

Topo ngeluweng biasanya dilakukan dengan cara mengubur diri di tanah pekuburan atau tempat sangat sepi.

Konon topo ini bertujuan untuk memunculkan penglihatan gaib, katanya setelah melakukan topo ini bisa melihat jin atau arwah-arwah gentayangan.

Topo pendem hampir sama dengan topo ngeluweng atau bahkan ada yang menyamakan ritual tirakat ini.

Biasanya diawali puasa lalu tirakat dengan mengubur diri hidup-hidup dengan diberikan lubang untuk bernafas dari bambu atau pralon.

Melihat dari Dekat Prosesi Jamasan Kereta Pusaka Kraton Yogyakarta

Topo Bisu Lampah Mubeng Benteng

Tradisi yang telah dilaksanakan secara turun temurun tersebut sudah ada sejak Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk menyambut Malam Satu Suro.

Ritual setahun sekali ini bertujuan sebagai bentuk introspeksi dalam rangka pendekatan diri kepada Yang Maha Kuasa, supaya mendapatkan perlindungan dan keselamatan.

Acara ritual topo bisu mubeng beteng diawali dengan lantunan tembang macapat oleh para abdi dalem yang dalam setiap lirik kidung tersebut berisi doa doa serta pengharapan bertempat di Keben Keraton Yogyakarta.

Dilansir dari Kompas.com, tradisi ini merupakan prosesi yang dimaknai sebagai bentuk perenungan diri berupa tirakat atau lelaku.

Sekaligus berdoa untuk Yogyakarta maupun Indonesia ke depan yang lebih baik.

Juga sebagai bentuk perenungan dan introspeksi diri, selama tirakat atau lelaku mengelilingi benteng, masyarakat dilarang berbicara, minum, ataupun merokok.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved