Sleman
Sepanjang 2019 hingga Awal September, Dinkes Sleman Temukan 487 Kasus TBC
Dimungkinkan angka kasus TBC bisa lebih besar dari itu, karena masyarakat tidak mengetahui gejalanya dan cenderung mengabaikan pemeriksaan menyeluruh.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Selama 2019, hingga awal September Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menemukan 487 kasus Tuberculosis (TBC).
Dimungkinkan angka kasus TBC bisa lebih besar dari itu, karena di luar sana masyarakat tidak mengetahui gejalanya dan cenderung mengabaikan pemeriksaan menyeluruh.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sleman, Dulzaini mengatakan 487 kasus tersebut terdiri dari semua jenis penyakit TBC.
Sedangkan berdasarkan hasil penghitungan pada 2019 ini, prevalensi kasus TBC di Sleman yakni 1.814 kasus.
Ia menjelaskan, banyaknya kasus TBC yang belum ditemukan dikarenakan pengetahuan masyarakat yang awam terhadap gejala TBC.
"Padahal semakin banyak kasus TBC yang ditemukan, maka otomatis akan bisa diobati sehingga tidak menularkan ke orang lain," ungkapnya pada Tribunjogja.com, Selasa (10/9/2019).
Yang terjadi adalah, jika seseorang mengalami batuk, maka yang dilakukan adalah membeli obat batuk di warung dan merasa sembuh setelah meminum obat itu.
"Tapi besoknya batuk lagi beli obat di warung lagi. Padahal batuknya kemungkinan merupakan gejala TBC," imbuhnya.
Maka dari itu, agar kasus TBC dapat cepat ditangani, pihak Dinkes Sleman terus berupaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan TBC.
Upaya tersebut dengan membina kader kesehatan serta membentuk desa-desa peduli TBC.
“Dengan peduli maksudnya setiap orang yang memiliki gejala mengarah ke TBC itu langsung ditangani secara standar, diperiksa,” ucap dia.
Selain itu, Dinkes juga melakukan screening terhadap orang-orang yang berisiko, serta orang-orang yang melakukan kontak dengan penderita TBC.
Yang dimaksud orang berisiko yakni orang dengan diabetes melitus, orang dengan HIV/AIDS yang kesemuanya mengalami penurunan daya tahun tubuh.
Sementara itu, Kabid Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman Novita Krisnaeni meminta agar masyarakat agar waspada dan lebih peduli dengan kondisi kesehatannya.
Salah satunya dengan mengenali gejala TBC seperti batuk selama dua pekan berturut-turut disertai dahak.
Berat badan terus turun, nafsu makan berkurang, demam tapi tidak tinggi dan badan mengeluarkan keringat dingin saat malam hari.
Jika masyarakat merasakan hal seperti itu, maka diminita untuk ke Puskesmas terdekat untuk dilakukan pengecekan.
"Silakan ke puskesmas, karena obat gratis dan ditanggung pemerintah," ungkapnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)