Yogyakarta

Polemik Pintu Rel Kereta Janti, Peneliti Pustral: Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Di satu sisi, target menjamin keselamatan sepanjang jalur rel kereta api atas penutupan pintu kereta belum sepenuhnya tercapai karena dilaporkan masih

Polemik Pintu Rel Kereta Janti, Peneliti Pustral: Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
MELINTASI REL. Warga melintasi rel kereta api di bawah jembatan layang Janti, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (9/9/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Problema terkait penutupan pintu kereta api di bawah fly over Janti kembali mencuat seiring belum adanya solusi bagi pejalan kaki di sekitar lokasi.

Di satu sisi, target menjamin keselamatan sepanjang jalur rel kereta api atas penutupan pintu kereta belum sepenuhnya tercapai karena dilaporkan masih muncul korban tersambar kereta.

Iwan Puja Riyadi, salah satu peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melihat bahwa penutupan rel kereta api di bawah fly over Janti telah menjadi problem sosial.

Ini terjadi, ketika saat ini masih ada sejumlah pihak yang ingin agar dibuat jalur khusus bagi pejalan kaki di area sekitar lokasi penutupan pintu rel kereta.

DPRD DIY Desak Segera Bangun JPO di Rel Kereta Janti

“Perlu dibedakan antara kebutuhan dan keinginan tersebut. Kalau dasarnya kebutuhan, yang berarti kebutuhan mendapat keselamatan, penutupan pintu kereta api di Janti itu sudah tepat dengan segala konsekuensinya. Tapi jika dasarnya adalah keinginan, maka tuntutan membangun jalur khusus pejalan kaki itu adalah salah satu contoh keinginan,” kata Iwan.

Iwan pun menyoroti, tuntutan yang berdasar pada keinginan biasanya akan menjadi masalah di kemudian hari.

Termasuk, dalam hal ini tuntutan warga atas solusi penutupan jalur rel kereta api yang kemudian diwacanakan berupa Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

Iwan, justru melihat keberadaan JPO bukan menjadi sebuah solusi yang jitu mengatasi permasalahan ini.

Hal ini dikarenakan potensi adanya tuntutan lain ketika tuntutan pertama (pembangunan JPO) dipenuhi.

Misalnya, akan ada tuntutan lain berupa pembangunan jalan khusus untuk sepeda, lalu jalan khusus sepeda motor atau bisa saja berupa transportasi seperti mobil.

Halaman
12
Penulis: sus
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved