Yogyakarta
Polemik Pintu Rel Kereta Janti, Peneliti Pustral: Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Di satu sisi, target menjamin keselamatan sepanjang jalur rel kereta api atas penutupan pintu kereta belum sepenuhnya tercapai karena dilaporkan masih
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Problema terkait penutupan pintu kereta api di bawah fly over Janti kembali mencuat seiring belum adanya solusi bagi pejalan kaki di sekitar lokasi.
Di satu sisi, target menjamin keselamatan sepanjang jalur rel kereta api atas penutupan pintu kereta belum sepenuhnya tercapai karena dilaporkan masih muncul korban tersambar kereta.
Iwan Puja Riyadi, salah satu peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melihat bahwa penutupan rel kereta api di bawah fly over Janti telah menjadi problem sosial.
Ini terjadi, ketika saat ini masih ada sejumlah pihak yang ingin agar dibuat jalur khusus bagi pejalan kaki di area sekitar lokasi penutupan pintu rel kereta.
• DPRD DIY Desak Segera Bangun JPO di Rel Kereta Janti
“Perlu dibedakan antara kebutuhan dan keinginan tersebut. Kalau dasarnya kebutuhan, yang berarti kebutuhan mendapat keselamatan, penutupan pintu kereta api di Janti itu sudah tepat dengan segala konsekuensinya. Tapi jika dasarnya adalah keinginan, maka tuntutan membangun jalur khusus pejalan kaki itu adalah salah satu contoh keinginan,” kata Iwan.
Iwan pun menyoroti, tuntutan yang berdasar pada keinginan biasanya akan menjadi masalah di kemudian hari.
Termasuk, dalam hal ini tuntutan warga atas solusi penutupan jalur rel kereta api yang kemudian diwacanakan berupa Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).
Iwan, justru melihat keberadaan JPO bukan menjadi sebuah solusi yang jitu mengatasi permasalahan ini.
Hal ini dikarenakan potensi adanya tuntutan lain ketika tuntutan pertama (pembangunan JPO) dipenuhi.
Misalnya, akan ada tuntutan lain berupa pembangunan jalan khusus untuk sepeda, lalu jalan khusus sepeda motor atau bisa saja berupa transportasi seperti mobil.
Atau, tuntutan dipasang lampu penerangan di JPO agar bisa dilewati pada malam hari.
“Pemenuhan jalur khusus seperti misalnya JPO (agar bisa melintas jalur rel di bawah fly over Janti) ini hanya akan menjadi bom waktu karena akan menimbulkan masalah lain. Misalnya, makin banyak orang yang berbondong-bondong lewat perlintasan Janti. Dalam situasi yang seperti ini, potensi problem lain di kemudian hari akan tetap ada,” kata Iwan.
• Catat! Ruas Jalan Flyover Janti Sisi Timur Ditutup Total Hingga 7 Oktober 2018
Bukan bermaksud berpihak pada PT KAI atau tak ingin membela masyarakat sekitar lokasi, Iwan mengajak agar semua pihak menyadari fungsi dan kondisi rel perlintasan kereta api di bawah fly over Janti yang urgent untuk steril dari aktivitas lalu lalang warga apalagi dilewati kendaraan bermotor.
Iwan, berupaya meyakinkan semua pihak, bahwa mendapat keselamatan adalah kebutuhan.
Menurut Iwan, masih ada jalan layang yang jadi win-win solution atas penutupan pintu kereta api di Janti.
Atau, opsi untuk melewati jalur lain yang lebih aman meskipun jaraknya sedikit jauh.
“Saya kira keselamatan seseorang jauh lebih utama dan menjadi prioritas dibanding berputar melewati pintu rel kereta api yang lainnya yang sebenarnya tidak terlalu seberapa,” kata Iwan. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/melintasi-rel-warga-melintasi-rel-kereta-api-di-bawah-jembatan-layang-janti.jpg)