Kisah Sukses Warga Randusari Prambanan, Olah Buah Sukun hingga Sukses Tembus Pasar Jepang

Baru dirintis sejak 2015 lalu, produk olahan sukunnya mampu menembus pasar ekspor.

Tayang:
Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho
Pariyah Perempuan asal Randusari Prambanan Klaten Jawa Tengah sukses mengolah sukun menjadi camilan keripik dan stik yang menembus pasar Jepang dan berdayakan 12 perempuan dan laki-laki di sekitarnya. 

TRIBUNJOGJA.COM - Siapa sangka, buah sukun mampu memberikan keberuntungan bagi perempuan asal Randusari, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah ini.

Baru dirintis sejak 2015 lalu, produk olahan sukunnya mampu menembus pasar ekspor.

"Saat ini kalau keluar negeri masih ke Jepang saja, kirim sebulan sekali," kata Pariyah saat ditemui Tribunjogja.com di kediaman sekaligus lokasi produksinya, Rabu (28/8/2019) kemarin. 

Ia menyebutkan saat ini jumlah kiriman ke Jepang mencapai satu kuintal per bulannya. 

"Kalau disini Rp35 ribu per kilo, kalau jual di Jepang harganya lebih tinggi, per kilo Rp250 ribu," sebutnya sambil tertawa. 

Pariyah awalnya belum mau menggeluti bisnis olahan sukun ini.

Bisnis awalnya hanya sebatas mengirimkan sukun mentah ke berbagai daerah salah satunya Cilacap Jawa Tengah.

Ia belum mengetahui bahwa sukun sejatinya bisa mendapat nilai ekonomis lebih.

Lantas berkat dorongan anaknya, ia mencoba mengolah sukun menjadi camilan berupa keripik dan stik sukun yang ia beri merek Joyo Roso. 

"Terus anak saya ngasih tahu kalau belum ada lho yang ngolah sukun di daerah kita. Gimana kalau coba digoreng jadi keripik sama stik sukun. Akhirnya mulai 2015 itu saya buat dan ternyata laku," bebernya. 

Saat memulai bisnis, ia menyebut masih kesulitan mendapatkan akses permodalan. Bahkan alat produksi juga masih seadanya. 

"Dulu susah cari modal, terus kenal sama petugas lapangan dari Amartha (fintech), saya diberi tahu, akses modalnya mudah dan didampingi akhirnya sekarang bisa berkembang pelan-pelan dan sekarang yang nawarin modal sudah antri-antri," kelakarnya.

Berkat ketelatenan dan kerja kerasnya, Pariyah kini menuai hasil yang luar biasa. Dalam sehari ia mampu memotong 800-1.000 butir sukun dan berhasil memproduksi sekira 1-2,5 kuintal keripik dan stik sukun. 

Hasil ini ia jual dengan harga mulai Rp 35ribu per kilogram. Praktis ia bisa menghasilkan pemasukan mencapai Rp 3.500.000 hingga Rp 8.750.000 per harinya. 

Pasarnya ke beberapa kota besar yang ada di Indonesia seperti Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan kota-kota lainnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved