Yogyakarta

Kendaraan Bermotor Dilarang Melintas Kawasan Malioboro, Uji Coba Pedestrian Hingga Malam Hari

Pelaksanaan uji coba kali ini berbeda dari dua kali pelaksanaan sebelumnya dan akan dimulai lebih siang dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB

Tayang:
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNjogja.com | HASAN SAKRI
KAWASAN PEDESTRIAN. Warga beraktivitas di kawasan jalan Malioboro, kota Yogyakarta, Senin (5/11/2018). Direncanakan akan dilaksanakan ujicoba pelaksaaan jalan Malioboro menjadi kawasan pedestrian secara penuh hanya bus Transjogja dan kendaraan tak bermotor yang boleh melintas. 

Lantaran uji coba pedestrian ini diberlakukan secara full, Sigit berharap tidak ada panggung di sekitar pedestrian atau trotoar. Hal ini karena kawasan trotoar ini diberlakukan full untuk pejalan kaki.

"Saya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata. Ada beberapa titik untuk pertunjukan namun saya tidak hafal detail, salah satunya di kawasa titik nol, " urainya.

Panggung Untuk Kesenian di Malioboro Perlu Solusi

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Gatot Saptadi menjelaskan, jika memang atraksi atau kesenian tidak dilaksanakan di trotoar maka harus ada solusi. Sejauh ini, masukan untuk tidak menggunakan trotoar sebagai atraksi kesenian merupakan hal yang baik.

"Tidak pakai trotoar boleh-boleh saja. Masukannya boleh tetapi solusinya bagaimana. Kalau tidak pakai panggung memang tidak apa-apa, " ujar Gatot, Senin (26/8).

Dia mengatakan, di sepanjang Malioboro memang bisa digunakan untuk kegiatan kesenian. Dia juga menyebut jika atraksi yang diatur dan dikoordinir oleh Dinas Pariwisata menjadi hiburan tersendiri bagi pengguna jalan.

"Untuk penampilan yang besok (hari ini) saya belum mantau. Tetapi, kemasannya memang akan dibuat berbeda dan tidak berulang-ulang, " jelasnya.

Dia menjelaakan, event-event itu memang diperlukan dan PKL pun nantinya bisa hidup dari kesenian dan pedestrian ini. Meski demikian, memang perlu ada pengaturan dan juga tim seleksi untuk penampilan kesenian ini.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo sebelumnya juga menilai perlunya pengelola kesenian agar pelaksanaannya tidak disusupi dengan kegiatan berbaj SARA dan bahkan anti NKRI.

"Perlu adanya semacam pengelola atau panitia khusus. Hal ini untuk mengatur dan menata kesenian yang akan tampil, bila tanpa pengelola dimungkinkan disusupi kegiatan berbau SARA atau bahkan anti NKRI, " ujarnya.

Dia menyebutkan, kesenian yang tampil pun dimungkinkan tetap mengusung semangat kebudayaan. Bisa saja, dalam penampilannya, para pelaku kesenian bisa menampilkan kesenian sesuai tema tertentu. Ada tema milenial di satu titik, kontemporer di titik lain," imbuhnya

"Atau, malah seluruh budaya nasional ditampilkan. Tetapi panitia ini terbentuk dahulu, " paparnya.

Panitia khusus ini, ujar Singgih juga bisa mengkurasi atau mengindentifikasi berbagai kegiatan di sepanjang Malioboro selama sehari penuh. Adanya kesenian dan panggung terpanjang ini juga menyedot perhatian masyarakat dan menarik sejumlah wisatawan dari luar DIY juga ikut berwisata ke Malioboro. (ais)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved