Bisnis
Defisit BPJS Kesehatan, Pengobatan Penyandang Thalassemia Bisa Terganggu
Masalah defisit BPJS Kesehatan ini turut berpengaruh pada proses pengobatan penyandang Thalassemia.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Ari Nugroho
Program yang direalisasikan pada era Presiden SBY ini terlaksana dengan baik, namun tidak dilanjutkan kembali.
• Jumlah Penderita Thalassemia di Indonesia Capai 10 Ribu, Tumbuh 8-10 Persen per Tahun
"Justru Jampeltas ini lebih baik dari BPJS Kesehatan, karena langsung fokus pada kebutuhan penyandang Thalassemia," kata Andry.
Andry berharap masalah defisit keuangan tidak mengganggu pelayanan BPJS Kesehatan.
Sebab hal tersebut juga menjadi kewajiban negara untuk memenuhi kebutuhan kesehatan warganya.
Sementara itu, Yanti memastikan bahwa hingga saat ini pelayanan BPJS Kesehatan untuk pasien Thalassemia di DIY masih berjalan baik.
Bahkan obat-obatnya pun bisa didapatkan di rumah sakit kelas B.
Meskipun demikian, Yanti tetap berharap pengadaan obat-obatan tersebut tetap tersedia di rumah sakit kelas B.
Sebab ada kekhawatiran pelayanan hanya bisa didapatkan di rumah sakit kelas A seperti RSUP Dr. Sardjito.
"Selain harganya sangat mahal, kalau semuanya terpusat di Sardjito tentu pihak rumah sakit ikut kewalahan," kata Yanti.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ketua-yti-popti-diy-yanti-kusmono.jpg)