Pendidikan

Berikan Ruang Ekspresi Bagi Anak 'Gifted' Lewat Pameran 'Seni Membuka Imaji'

Hal ini penting untuk dilakukan karena anak gifted merupakan kelompok anak berisiko yang apabiia tidak tertangani dengan baik akan mengakibatkan under

Tayang:
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Noristera Pawestri
Dalam rangka merayakan 'the International Day for the Gitfed' Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan pembukaan pameran 'Seni Membuka Imaji' dan bedah karya Anak Gifted pada Rabu (21/8/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Anak 'Gifted' tidak serta merta sama dengan jenius, juga bukan mengenai anak yang selalu rangking.

Istilah Gifted di Indonesia lebih dikenal dengan cerdas istimewa berbakat istimewa.

Dalam rangka merayakan 'the International Day for the Gitfed' Parents Support Group for Gifted Children (PSGGC) Jogja  dan Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan pembukaan pameran 'Seni Membuka Imaji' dan bedah karya Anak Gifted pada Rabu (21/8/2019).

Pameran karya Anak Gifted berlangsung pada 21 Agustus - 21 September 2019 di selasar Beringin Bung Hatta Kampus USD.

Ketua Panitia Acara Tyas Damayanti mengungkapkan pameran ini menampilkan 32 karya seni dari 10 Anak Gifted yang telah dikurasi.

"Pameran ini untuk memberikan ruang ekspresi bagi anak Gifted serta memberikan edukasi kepada masyarakat luas mengenai keunikan karya anak Gifted yang berbeda dari karya anak-anak seusianya," kata dia.

Sejak tahun 2015, PSGGC Jogja sebuah komunitas yang terdiri dari orangtua anak gifted dan pemerhati pengembangan anak gifted ini aktif menggelar berbagai event.

Upaya ini dilakukan sebagai sosialisasi dan edukasi tentang anak gifted baik berupa seminar, workshop, diskusi dan kegiatan lainnya.

Belajar Gamelan Jawa untuk Anak Berkebutuhan Khusus

"Namun masih diperlukan dukungan berbagai pihak serta edukasi lebih lanjut untuk menyuburkan kesadaran masyarakat mengenai giftedness," lanjutnya.

Lanjutnya, di Indonesia anak gifted hampir selalu diidentikkan dengan prestasi akademik yang tinggi.

Namun pemahaman ini justru menimbulkan berbagai masalah bagi anak gifted.

"Fakta membuktikan bahwa kecerdasan intelektual anak gified yang di atas rata-rata, tidak selalu tampak melalui pencapaian prestasi yang tinggi. Kreativitas anak gifted di atas rata-rata yang sering menyebabkan mereka cepat bosan dan dianggap mengganggu," terangnya.

Untuk itu, peran orang tua ideal diperlukan dalam pendidikan anak gified, bukan sekedar mencari informasi dan melakukan deteksi giftedness tetapi harus dapat menindaklanjuti temuan hasil identifikasi tersebut sehingga dapat membantu mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak gifted.

Hal ini penting untuk dilakukan karena anak gifted merupakan kelompok anak berisiko yang apabiia tidak tertangani dengan baik akan mengakibatkan underachiever atau kurang berprestasi.

Pemahaman orangtua yang kurang tepat tentang anak gified berdampak pada ekspektasi orang tua yang belum tentu sesuai dengan kondisi anak.

Hal ini kemudian mendorong para orangtua PSGGC Jogja untuk berbagi pengalaman dalam mendampingi permasalahan anak-anak gifted melalui peluncuran buku 'Menyongsong Pagi Menyingkap Tabir Permasalahan Pendidikan Anak Gifted' yang akan diluncurkan pada 21 September 2019 mendatang.

"Ini buku kedua dari PSGGC yang ditulis berdasarkan pengalaman 15 orangtua anggota PSGGC Jogja dalam mencari pendidikan yang sesuai dengan anak mereka," kata dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved