Kontroversi Bajakah sebagai Obat Kanker, Ini Beberapa Fakta Menurut Pakar
Bajakah dalam bahasa Dayak mempunyai arti akar-akaran. Sehingga, bajakah bukan nama spesies tanaman. Berikut ini fakta tentang bajakah
TRIBUNJOGJA.COM - Tanaman bajakah yang diklaim dapat menyembuhkan penyakit kanker ramai diperbincangkan khalayak. Bahkan, di media sosial banyak orang-orang mengambil celah atas pemberitaan tersebut.
Dengan mudahnya, di berbagai platform sosial media dan televisi, ditemukan penjualan batang yang diklaim merupakan tanaman bajakah. Harga yang ditawarkan pun beragam, tentunya dalam rentang ratusan ribu.
• Mengenal 5 Baju Adat yang Pernah Dipakai Jokowi
Berikut ini beberapa fakta mengenai bajakah:
1. Bajakah Bukan Spesies Tanaman
Kepala Balitbang Kementerian Kesehatan Siswanto menjelaskan, bajakah dalam bahasa Dayak mempunyai arti akar-akaran. Sehingga, bajakah bukan nama spesies tanaman.
Siswanto menjelaskan, bajakah secara indigeneous digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pengobatan secara tradisional.
Tanaman bajakah sendiri ditemukan di hutan Kalimantan Tengah. Bagian batang pohon ini yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit kanker, di mana batang dikeringkan, ditumbuk, dan direbus.
Siswa SMAN Palangkaraya memang telah melakukan penelitian dengan menguji coba di laboratorium. Hasilnya, sejumlah zat seperti tannin, flavonoid, dan senyawa fitokimia terkandung pada tanaman bajakah.
2. Fase Pengujian
Pengujian tanaman bajakah dengan media mencit atau tikus telah dilakukan.
Kendati demikian, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof Dr dr Aru Sudoyo menuturkan, klaim tanaman ini dapat menyembuhkan kanker harus dilakukan uji lanjut, bukan hanya sekadar uji coba terhadap tikus.
"Karena uji coba terhadap tikus dan manusia itu berbeda," kata Aru.
Dilansir dari situs resmi Cancer Researches UK, 13 Februari 2019 lalu, terdapat lima fase uji klinis obat untuk penyakit kanker pada manusia.
- - Fase 0
- Uji coba dilakukan ke partisipan dalam skala kecil, sekitar 10-20 orang dengan berbagai tipe kanker. Pada fase ini, calon obat diberikan dalam dosis rendah guna mengecek tingkat bahaya obat.
- - Fase 1
- Jumlah sampel yang diberi perlakukan masih dalam skala kecil, tapi lebih banyak dibandingkan fase sebelumnya, yaitu 20-50 orang dengan banyak tipe kanker. Fase ini bertujuan menemukan efek samping dan reaksi obat dalam tubuh.
- - Fase 2
- Jumlah partisipan dalam skala sedang, dengan total puluhan orang hingga lebih dari 100 orang. Uji klinis fase ini dilakukan untuk satu atau dua tipe kanker, terkadang bisa lebih. Tujuan dari fase ini yaitu menemukan efek samping dan keefektifan terapi bekerja.
- - Fase 3
- Fase ini melibatkan ratusan hingga ribuan orang, di mana hanya ada satu tipe kanker, atau bisa lebih. Tujuannya, membandingkan terapi terbaru dengan terapi standar yang biasanya dilakukan.
- - Fase 4
- Partisipan pada fase ini berukuran medium atau besar, dengan satu tipe kanker atau bisa lebih. Fase empat mempunyai tujuan untuk manfaat jangka panjang dan efek samping dari terapi yang baru.
3. Tindak Lanjut
Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Enny Sudarmonowati mengatakan, harus ada tindak lanjut pemerintah setempat terhadap tanaman bajakah ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/5-fakta-di-balik-kayu-bajakah-obat-penyembuh-kanker-dari-hutan-kalimantan.jpg)