Musim Kemarau hingga Oktober 2019, Bantul Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan

Kemungkinan besar kemarau tahun ini akan lebih lama dari biasanya. Menurut BMKG, musim kemarau masih akan terjadi hingga Oktober 2019.

Editor: iwanoganapriansyah
TRIBUNJOGJA.COM | Rendika Ferri Kurniawan
Sukini mengambil air dari lubang di Telaga Banteng yang ada di Padukuhan Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul. 

TRIBUNJOGJA.COM - Selain akan menimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kemarau juga mengakibatkan kekeringan di sejumlah daerah di Indonesia.

Apalagi, menurut perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) , kemungkinan besar kemarau tahun ini akan lebih lama dari biasanya, yang berarti akan memicu kekeringan lebih panjang. Menurut BMKG, musim kemarau masih akan terjadi hingga Oktober 2019.

Asap Indonesia Akhirnya Sampai ke Malaysia, BNPB Kerahkan 36 Helikopter

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Indra Gustari mengatakan, ancaman kekeringan panjang pada musim kemarau tahun ini disebabkan oleh curah hujan yang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dalam kategori rendah dibanding biasanya.

Warga mengecek dasar dari Embung Nglanggeran yang mengering akibat kemarau panjang, Jumat (12/10/2018).
Warga mengecek dasar dari Embung Nglanggeran yang mengering akibat kemarau panjang, Jumat (12/10/2018). (Istimewa)

Namun, meski Indonesia mengalami musim kemarau, beberapa daerah tetap mendapat curah hujan.

Sedangkan beberapa daerah yang biasanya mengalami curah hujan rendah saat kemarau adalah daerah di selatan equator khatulistiwa.

Seperti Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi Selatan dan Tenggara, serta Papua di sekitar Merauke.

"Ada beberapa indikator dinamika atmosfer yang menyebabkan curah hujan lebih rendah daripada biasanya," ujar Indra.

Ibu Kota Baru di Kalimantan akan Diumumkan Jokowi pada 16 Agustus Nanti

Pertama, anomali atau simpangan terhadap rata-rata suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia masih terlihat negatif atau lebih rendah dari biasanya.

Kedua, muson Asia yang biasanya membawa banyak hujan ke Indonesia terutama Jawa atau daerah di sebelah equator, tampak agak lambat munculnya atau menjalar ke selatan Indonesia.

"Hal itu jugalah yang memengaruhi curah hujan rendah terjadi di berbagai daerah Indonesia nanti," jelas Indra.

BMKG memprediksi, jika biasanya musim hujan akan mulai masuk pada bulan Oktober, di tahun ini akan mundur beberapa hari, sekitar 10-30 hari, tergantung pada kondisi.

Darurat Kekeringan

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga merilis Data Bencana Kekeringan yang terjadi di Indonesia.

Dalam update Data Bencana Kekeringan, hingga Rabu (14/8/2019) pukul 15.00 WIB, sebanyak tujuh provinsi terdampak kekeringan, yakni Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, NTT, dan Bali.

Sedangkan daerah kabupaten/kota yang terdampak berjumlah 101 kabupaten/kota yang tersebar di Jawa Tengah (29 daerah), Yogyakarta (2), Jawa Timur (26), Jawa Barat (17), NTB (9), NTT (15), dan Bali (3).

Kekeringan tahun ini secara total terjadi di 7 provinsi, 101 kabupaten/kota, 758 kecamatan, dan 2.470 desa.

Anggota Polsek Bantul dan Relawan Mandali Bantul Karang mengangkat ember berisi air dalam kegiatan dropping air bersih di Padukuhan Tangkil, Desa Muntuk, Dlingo, Minggu (4/8/2019)
Anggota Polsek Bantul dan Relawan Mandali Bantul Karang mengangkat ember berisi air dalam kegiatan dropping air bersih di Padukuhan Tangkil, Desa Muntuk, Dlingo, Minggu (4/8/2019) (Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin)
Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved