Film

Film Bumi Manusia Tidak Hanya Romansa tapi Juga Nasionalisme, Begini Sinopsisnya

Sebuah keputusan tepat apabila Falcon Pictures, rumah produksi 'Bumi Manusia' merilis film besutan Hanung Bramantyo itu menjelang hari kemerdekaan

Tayang:
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Iwan Al Khasni
instagram.com/falconpictures_
Film 'Bumi Manusia' Tidak Hanya Romansa, tapi Juga Kemanusiaan 

"Kita sudah melawan, nak Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya," - Nyai Ontosoroh

Sebuah keputusan tepat apabila Falcon Pictures, rumah produksi 'Bumi Manusia' merilis film besutan Hanung Bramantyo itu menjelang hari kemerdekaan Indonesia. Pasalnya, film yang diangkat dari novel Pramoedya Ananta Tour tersebut dirasa mampu membangkitkan semangat nasionalisme penonton.

Bagaimana tidak, sepanjang film, penonton akan disuguhi fakta bahwa pribumi tak punya andil untuk berdiri diatas kaki sendiri.

Mereka terlunta-lunta di bawah kepemimpinan para kompeni yang seharusnya tak terjadi.

Tidak ada keadilan apalagi kemanusiaan.

Film ini telah ditayangkan perdana di Yogyakarta pada Selasa (13/8/2019).

Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas turut menyaksikan pemutaran perdana itu.

Meski bertumpu pada kisah dua sejoli, Minke dan Annelies, namun sejatinya 'Bumi Manusia' tak berkisah tentang romantika saja.

Dalam bukunya, Pram banyak membeberkan tentang kemanusiaan, begitupula hasil arahan Hanung yang dipadatkan hingga tiga jam durasi film.

Minke adalah seorang pribumi Indonesia. Bernama asli RM Tirto Adhi Soerjo, ia dijuluki Minke yang berarti monyet, sebutan untuknya dari anak-anak Belanda saat itu.

Meski anak seorang bupati dan mampu bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS), sekolah menengah di zaman Hindia Belanda, ia tak lantas bergaya sok kebarat-baratan.

Ia bahkan menutupi statusnya sebagai seorang bangsawan bertitel Raden Mas (RM) dan hanya menggunakan nama Minke.

Baginya, setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, tak ada istilah pribumi, indo maupun Belanda totok.

Sementara, Annelies Mellema yang menjadi pujaan hatinya adalah seorang perempuan campuran Indonesia-Belanda.

Sang ibu bernama Sanikem atau biasa dipanggil Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi tulen yang cerdas dan bijaksana. Ayahnya adalah Herman Mellema, memiliki kedudukan tinggi di Wonokromo, namun tidak menikahi Sanikem secara legal.

Konflik mulai memanas ketika Herman Mellema ditemukan mati di rumah bordil milik Babah Ah Tjong.

Bukan masalah harta gono gini, tapi pengadilan Eropa membedakan pengadilan pribumi dan kulit putih. Hal itu membuat keadaan makin runyam.

Nyai Ontosoroh yang dipanggil ke Pengadilan Pribumi untuk menjadi saksi
Nyai Ontosoroh yang dipanggil ke Pengadilan Pribumi untuk menjadi saksi (instagram.com/falconpictures_)

Ditambah, kebodohan Mellema yang tidak menceraikan istri pertamanya di Belanda dan melanjutkan hidup serumah dengan Nyai Ontosoroh di Wonokromo menjadikan sebuah bumerang.

Perkebunan dan peternakan kuda yang dikelola Nyai Ontosoroh selama puluhan tahun terampas begitu saja karena ia tak memiliki dasar hukum yang kuat akibat ketiadaan hitam diatas putih dengan Mellema.

Hak asuh Annelies yang masih dibawah umur itu juga harus dipindahkan ke Maurits Mellema, putra sah Herman Mellema dari istri pertama di Belanda.

Rentetan nasib naas itu membuat mata Minke dan Nyai Ontosoroh semakin terbuka, bahwa mereka harus melawan penjajahan dan rasa tidak manusiawi.

Karena kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan. Pikiran Minke yang modern membuatnya ingin berkontribusi lebih untuk Hindia Belanda.

Bagi Minke, kedudukan pribumi saat itu tidak lebih rendah daripada orang Eropa yang datang ke Hindia Belanda. Sejak dulu, pribumi tetap bisa mengelola hasil sumber daya alamnya sendiri dengan alat-alat sederhana.

Alih-alih membuat marah, pernyataan yang disampaikan saat pelantikan jabatan bupati sang ayah itu justru membuat Asisten Residen Kota B, Herbert de la Croix terkesima. Croix sekeluarga menilai Minke adalah pemuda masa depan yang mampu membawa kejayaan negerinya.

Meski ia adalah Eropa totok dengan kulit putih dan rambut kuningnya, ia tak berwatak kolonial. Ia justru memikirkan masa depan bangsa Hindia Belanda dan mulai menaruh perhatian pada kaum-kaum terpelajar seperti Minke.

Cara Minke melawan bukan dengan hantaman, tapi dengan tulisan. Kepiawaiannya merangkai kata membuat Minke menulis terus menerus di sebuah surat kabar yang dipimpin Maarten Nijman.

Sejumlah tulisannya juga banyak menyentil hukum Eropa yang lucu, meringankan kulit putih dan memberatkan pribumi. Ia menulis hingga titik penghabisan. Tak disangka, tulisan itu membuat geger banyak orang. Sedikit demi sedikit, pribumi tertindas mulai bangkit melawan ketidakberdayaan itu.

Bagi Anda yang berpikir akan melihat scene-scene manis Annelies dan Minke, sebaiknya menurunkan ekspektasi. Film ini tidak hanya memperlihatkan perjuangan Minke mendapatkan sang bunga penutup abad, tetapi bagaimana ia melawan penjajahan di negerinya.

Film yang sudah tayang di bioskop itu menegaskan bahwa kemanusiaan harus dimiliki setiap diri manusia. Dengan begitu, penjajahan dan ketidakadilan bisa dihapuskan.

Sebagai adegan pamungkas, Hanung menaruh ucapan paling tenar milik Pramoedya di akhir film. Dengan menangis dan marah, Minke berteriak kepada ibu mertua, Nyai Ontosoroh bahwa mereka telah kalah. Namun, Nyai menolak dibilang kalah.

"Kita sudah melawan nak Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya," ucapnya sembari mendekap sang menantu.

( Tribunjogja.com | Bunga Kartikasari )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved