Bisnis

Grab Kampanye #AntiNgaret di Yogyakarta

Grab Indonesia melakukan kampanye gerakan #AntiNgaret di delapan kota seluruh Indonesia.

Grab Kampanye #AntiNgaret di Yogyakarta
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon Pinsker
Grab Indonesia melakukan kampanye gerakan #AntiNgaret di delapan kota seluruh Indonesia, Kamis (8/8/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Grab Indonesia melakukan kampanye gerakan #AntiNgaret di delapan kota seluruh Indonesia.

Yogyakarta menjadi satu kota yang dituju dalam kampanye tersebut terkhusus layanan Grab Bike.

Kampanye #AntiNgaret bertujuan untuk memastikan ketepatan waktu jemput sewaktu konsumen menggunakan layanan Grab. Sehingga komitmen untuk meminimalisir budaya ngaret bisa ditekan.

Michael Putra, Senior Marketing Manager 2-Wheel, Grab Indonesia mengatakan, persoalan ketepatan waktu memang suatu hal yang penting di masa sekarang.

Untuk itu, pihaknya berupaya untuk mendukung orang-orang yang berkomitmen untuk tidak ngaret dan Grab siap untuk memfasilitasi.

Tingkatkan Produktivitas Masyarakat, GrabBike Kampanyekan #AntiNgaret

Michael mengklaim, sejauh ini pihaknya belum mendapati aduan yang signifikan terhadap masalah ketepatan waktu pengemudi.

Namun, satu dua keluhan terkait hal tersebut memang ada dari konsumen dan perlu ditindaklanjuti secara serius.

"Disini kami ingin mengatakan bahwa Grab Bike komitmen untuk bisa melakukan pengantaran dan penjemputan dengan tepat waktu," kata dia dalam acara Bersama Mendukung Indonesia Mengubah Budaya Ngaret, Kamis (8/8/2019) di Yogyakarta.

Semetara, Habdillah Anuraga, City Manager 2-Wheel Yogyakarta, Grab Indonesia menjelaskan, pihaknya telah mempunyai bebagai fitur guna mendukung kampanye #AntiNgaret.

Ada tiga poin yang disiapkan Grab Indonesia guna mendukung program ini berlaku efektif bagi para pengguna. Baik dari sisi jumlah mitra ataupun akses yang cukup lengkap diberbagai wilayah DIY.

"Kita ada lima juta titik jemput di seluruh Indonesia. Terdapat fitur alamat tersimpan di aplikasi, serta layanan pesan suara dan foto dan GrabNow," urainya.

Kisah Mitra Pengemudi Grab, Tulang Punggung Keluarga, Wisuda dengan Predikat Cumlaude

Di lain hal, Bayu A. Yulianto, Sosiolog dan Peneliti memaparkan bahwa, budaya ngaret telah menjadi kebiasaan dan biasa dilakukan secara sengaja oleh pelakunya. Kebiasaan ini tentu merugikan dan bersifat negatif di masyarakat.

Menurutnya ada dua faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kebiasaan itu, semisal pengaruh budaya serta faktor dari sumber eksternal.

Maka itu, ia menilai penggunaan transportasi berbasis online di tengah kesibukan masyakarat perkotaan tentu menjadi pilihan yang ideal. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved