Kota Yogyakarta
Bakteri dari Tinja Sumbang Nilai Buruk IKA
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY melakukan pemantauan kualitas air pada 10 sungai di DIY.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY melakukan pemantauan kualitas air pada 10 sungai di DIY.
Pemantauan tersebut dilakukan secara periodik sebanyak tiga kali dalam satu tahun.
Sungai yang menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY untuk dipantau meliputi sungai Code, Gajahwong, Winongo, Bedog, Konteng, Kuning, Tambakbayan, Oyo, Belik dan Bulus.
Kasi Pengendalian Pencemaran Air dan Sungai DLHK DIY, Ninik Srihandayani mengungkapkan terjadi peningkatan kualitas air sungai di DIY.
Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya Indeks Kualitas Air (IKA).
• Pelanggan Keluhkan Kualitas Air PDAM
Menurut data DLHK DIY dari tahun ke tahun IKA selalu meningkat.
Pada tahun 2016 target IKA DIY 29,17, sementara nilai IKA DIY mencapai 29, 17.
Tahun 2017 target IKA DIY adalah 32, sedangkan nilai IKA DIY mencapai 33,9.
Pada tahun 2018 target IKA DIY meningkat menjadi 34,2, sedangkan nilai IKA DIY mencapai 40,25.
Dari 10 sungai yang menjadi kewenangan DLHK DIY, hampir seluruhnya tercemar, namun masih dalam kategori rendah dan sedang.
"Ada yang tercemar ringan, ada yang sedang, tetapi hampir semua sungai mengandung bakteri Colli. Tetapi karena sungai kita kelas II, artinya tidak untuk konsumsi, masih aman dan memang tidak disarankan untuk konsumsi," katanya, Senin (28/7/2019).
• Mengintip Keindahan Sungai Oya dari Atas Tebing Watu Mabur
"Bakteri Colli itu kan terdapat di kotoran hewan, kotoran manusia. Itu yang mendominasi, meskipun angkanya selalu ada perbaikan,"sambungnya.
Ia tak menampik bahwa tingginya bakteri Colli di sungai disebabkan oleh pembuangan limbah rumah tangga ke sungai.
Ada pula kandang hewan yang berada di atas sungai.
"Memang saat ini sudah ada perbaikan, tetapi memang masih ada warga yang membuang limbah ke sungai. Warga membuat saluran, tetapi salurannya menuju sungai. Ada pula kandang hewan yang kotorannya masuk ke sungai,"ujarnya.
Terpisah, Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) DIY, Endang Rohjiani menambahkan tingkat pencemaran di masing-masing sungai berbeda.
FKWA menggunakan metode biolitik untuk memeriksa kualitas air sungai. Berupa pemanfaatan biota tidak bertulang sebagai indikator pencemaran.
Hasilnya untuk jenis udang tidak bisa tumbuh optimal.
Terbukti dari panjang sungut yang abnormal.
• Hari Bumi: 15 Foto yang Menggambarkan Pencemaran Lingkungan
"Tingkat pencemaran berbeda-beda, kadang ada yang tercemar sedang karena ada kandang, namun di titik-titik lain pencemaran ringan. Kalau ada yang menanam pohon, membersihkan sungai, nanti pencemaran menurun, jadi memang beda-beda,"tambahnya.
"Kalau di Kota Yogyakarta, Tegalrejo cukup tinggi, karena ada kandang babi yang kotorannya langsung ke sungai. Ditambah dengan pabrik tahu," tutupnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-kota-yogya_20180731_185714.jpg)