Komunitas Steja Pentaskan Perempuan-perempuan Pembebas

Pementasan ini hasil kerjasama Dinas Kebudayaan DIY, Taman Budaya Yogyakarta dan Sanggar Putri Sigrak.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Perempuan-perempuan Pembebas 

TRIBUNJOGJA.COM - Lakon “Perempuan-Perempuan Pembebas” karya Indra Tranggono akan dipentaskan Komunitas STEJA (Sinergi Teater Jogja) di Societet Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (26/7/2019) pukul 20.00.

Pementasan ini hasil kerjasama Dinas Kebudayaan DIY, Taman Budaya Yogyakarta dan Sanggar Putri Sigrak.

Disutradarai Luwi Darto Ssn, repertoar ini didukung para teaterawan DIY lintas generasi, era 1980-an- 2000-an.

Mereka adalah Khocil Birawa, Seteng Agus Yuniawan, Nunung Rieta, Luwi Darto, Sukaptiran, Joanna Dyah, Elyandra Widharta, Chandra Nilasari, Estri Mega dan Gea Mitha. Musik digarap Y Arief Susilo, Guntur Nur Puspito, dan Daniel Soka.

Tata cahaya , Lintang Radittya. Koreografer Gita Gilang dan Supervisor Indra Tranggono.

“Mengambil gaya monolog dan dialog, lakon ini digarap secara teaterikal, dengan basis realisme,” ujar Luwi Darto.

Dijelaskan Luwi, pementasan ini memadukan bentuk realis dan non realis, demi menciptakan peristiwa dramatik.

“Setiap adegan memiliki pucak dramatik. Puncak-pucak itu dianyam oleh persoalan dan alur hingga membentuk struktur dramatik,” tambah Luwi.

Sementara itu Indra Tranggono mengatakan pementasan ini bisa dimaknai dalam tiga perspektif.

Pertama, secara tematik bicara tentang posisi perempuan yang menjadi korban dari praktik nilai-nilai yang didominasi laki-laki (yang mewujud dalam sistem, struktur dan kekuasaan).

Kedua, dorongan untuk semakin eksis-nya para perempuan teaterawan baik sebagai sutradara, aktor maupun peran-peran lainnya di bidang artistik dan produksi. “Seperti kita tahu teater Indonesia adalah teater yang didominasi laki-laki” tutur Indra.

Ketiga, meletakkan kekuatan daya kreatif di atas dominasi kuasa modal. Seiring menguatnya ekonomi neo-liberal, kehidupan berbeaya tinggi berdampak serius pada budaya, termasuk teater.

Pertimbangan ongkos produksi tinggi, cenderung menjadikan masyarakat gagap berteater. Ini bisa di atasi antara lain dengan kekuatan ide dan kreativitas yang mampu menekan dana.

Pertunjukan berdurasi sekitar 90 menit ini terbuka untuk umum dan gratis. (rls)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved