Yogyakarta

Pemuda Akar Budaya, Wajib Pegang Teguh Nilai Luhur Tanah Kelahiran

Pemuda merupakan akar budaya. Mungkin itulah yang ingin ditanamkan dalam diskusi yang digagas oleh Angkatan Muda Asal Lamakera Yogyakarta (AMALY) di T

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Wahyu Setiawan
Diskusi budaya yang digagas oleh Angkatan Muda Asal Lamakera Yogyakarta (AMALY) di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (24/7/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemuda merupakan akar budaya.

Mungkin itulah yang ingin ditanamkan dalam diskusi yang digagas oleh Angkatan Muda Asal Lamakera Yogyakarta (AMALY) di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (24/7/2019).

Diskusi yang menghadirkan berbagai pakar ini menjelaskan pentingnya anak muda memegang teguh budaya leluhur meski tengah merantau di daerah lain.

"Diskusi ini merefleksikan kembali mengenai nilai budaya dari silsilah tanah kelahiran kami bahwa meski kami berasal dari kampung tapi kita tak boleh meninggalkan nilai budaya saat sedang merantau," jelas Muhammad Anan Saputra, Ketua Panitia sekaligus Humas AMALY seusai diskusi.

Adakan Youth Gamelan, JCM Ajak Anak Muda Cinta Budaya

Seperti diketahui Lamakera merupakan salah satu desa yang terletak di Kabupaten Solor Timur, NTT, Flores.

Budayanya kental hingga saat ini.

Salah satu pemateri diskusi, Ketua DPD Vox Point Indonesia DIY John S Keban menyebut Desa Lamakera yang menjadi bagian dari Suku Lamaholot memiliki nilai-nilai yang dipegang erat yang hampir sama dengan nilai kebangsaan mulai dari masalah keadilan, kebenaran, religiusitas, moralitas hingga dedikasi dan gotong royong.

Menurut dia nilai inilah yang harus dipertahankan anak muda meski tengah berada di sebuah teritori budaya baru.

"Nilai itu sejalan dengan nilai universal sebuah bangsa. Kita jadikan nilai budaya lokal menjadi bagian penting dari sari-sari nilai sebuah bangsa," tandasnya.

Akhir Pekan Ini, Dinas Kebudayaan Bantul Bakal Gelar Festival Paseban 2019

Ia berharap nilai yang diwariskan oleh leluhur Lamaholot ini tetap dijadikan pegangan oleh anak muda Lamaholot saat mengadu nasib di tanah orang.

"Masyarakat Lamaholot dikenal mau mendengarkan, terbuka, adaptif sehingga mereka bisa survive di budaya manapun, cepat beradaptasi dan mampu membaur dalam budaya baru sehingga dimanapun warga Lamaholot bisa membawa nilai itu," ulasnya.

Ia mengajak seluruh anak muda tak hanya Suku Lamaholot untuk bisa memegang teguh nilai luhur tanah kelahiran.

Nilai tersebut kudu ditanamkan tak hanya melalui keluarga dan lingkungan melainkan juga melalui pendidikan formal.

"Pendidikan formal tak hanya transfer knowledge tapi juga transfer of value," tandasnya.

Di sisi lain, Abdul Malik Usman Dosen Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada menyebut anak muda memiliki peranan dalam menjaga nilai budaya leluhur.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved