Monster Igor dari Alam Taslim, Sepengggal Kisah Mi Instan yang Jadi Inspirasi Karya Seni

Alam Taslim adalah seorang seniman mural dan ilustrator yang menciptakan karya Monster 'Igor' yang lahir dari hobinya makan mi instan goreng.

Monster Igor dari Alam Taslim, Sepengggal Kisah Mi Instan yang Jadi Inspirasi Karya Seni
dok. Fatimah Artayu Fitrazana
Alam Taslim memegang mainan Monster 'Igor' dengan latar karya-karyanya yang terinspirasi dari mi instan goreng. 

TRIBUNJOGJA.COM - Lahir dari keluarga seniman di Surabaya, Alam Taslim telah diajari menggambar oleh orangtuanya. Dari situlah perjalanan Alam mengenal dunia seni rupa.

Setelah dewasa, Alam bekerja di perusahaan iklan selama sepuluh tahun. Karirnya desainer grafis hingga senior art director pernah dinikmatinya.

Sampai di tahun 2015, dia 'melahirkan' karya seni Monster Igor dan memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.

'Igor' merupakan singkatan dari Indomie goreng, karena Alam gemar menyantap mi instan. Sedangkan bentuknya yang menyerupai monster, dipilih karena menurutnya mi instan 'jahat' bagi kesehatan layaknya monster, namun sulit ditinggalkan.

Monster 'Igor' lahir karena Alam merasa posisinya sebagai art director itu kurang nyeni, mengingat dirinya tidak lagi menuangkan kreativitas melalui gambar dan desain, namun lebih ke konsep iklan.

Beberapa gambar Monster 'Igor' karya Alam Taslim yang dipamerkan di studio miliknya di Arkadia Communal Space.
Beberapa gambar Monster 'Igor' karya Alam Taslim yang dipamerkan di studio miliknya di Arkadia Communal Space. (dok. Fatimah Artayu Fitrazana)

Dengan menggambar satu desain Monster 'Igor,'  karya Alam mendapatkan respon yang baik lingkungan sekitarnya.

Dia bahkan menerima pesanan merchandise Monster 'Igor' dari kerabat-kerabatnya.

Alam yang memiliki latar belakang pendidikan desain produk kemudian memutuskan pindah ke Ubud, Bali.

Di sini dia mulai mengeksplorasi seni lagi dan mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan hobinya menggambar Monster 'Igor.'

Sadar tak bisa mengandalkan penghasilan dari hobinya, Alam mengambil pekerjaan sampingan menjadi SPB (Sales Promorion Boy) dengan menjual baju selama tiga bulan.

Hingga akhirnya, dia menemukan pekerjaan yang menurutnya sesuai, yaitu menjadi manajer galeri di Denpasar.

Halaman
123
Penulis: Fatimah Artayu Fitrazana
Editor: ose
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved