Gunungkidul

Hewan Ternak Harus Divaksinasi Agar Bisa Keluar dari Daerah Endemik

Hewan ternak yang berada di kawasan endemik antraks harus mendapatkan vaksin antraks baru diperbolehkan keluar dari kawasan endemiks antraks.

Hewan Ternak Harus Divaksinasi Agar Bisa Keluar dari Daerah Endemik
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribunjogja WIsang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Hewan ternak yang berada di kawasan endemik antraks harus mendapatkan vaksin antraks baru diperbolehkan keluar dari kawasan endemiks antraks.

Pernyataan tersebut diutarakan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, Rabu (10/7/2019).

"Saat ini proses vaksinasi masih tetap berlangsung, kami pastikan vaksinasi selesai jelang hari raya Idul Adha. Agar ternak bisa keluar dari kawasan endemik antraks," katanya.

Hanya 3 yang Positif Antraks dari 48 Sampel yang Dikirim Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul

Ia memaparkan saat ini sudah ada sebanyak 633 ekor sapi, 1423 ekor kambing, yang telah dilakukan vaksinasi oleh DPP.

Ribuan ternak tersebut berada di zona merah dan kuning, Adapun untuk zona merah yakni Dusun Grogol I,II,III,IV,V di Desa Bejiharjo, Karangmojo, hingga wilayah Wonosari yang berbatasan Grogol IV, yakni Dusun Tawarsari di Desa Wonosari dan Dusun Kajar III di Desa Karangtengah.

"Zona kuning, berada di Padukuhan Grogol II, Gunungsari, Banyubening I, Banyubening II, Kulwo Desa Bejiharjo. Kedung I, Kedung II, , Desa Piyaman, Selang II, Desa Selang, Desa Karang Tengah, Budegan I, Budegan II," paparnya.

Lanjutnya setelah mendapatkan vaksin hewan teernak akan dipantau perkembangan kesehatan selama beberapa hari. Vaksin antraks diberikan secara berkala selama sepuluh tahun.

"Tiap tahunnya hewan diberikan vaksin antraks sebanyak dua kali," imbuhnya.

Pemkab Sleman Sosialiasi Kebijakan Penanganan Antraks

Bambang mengingatkan, pemberian vaksin antraks ada efek sampingnya satu diantaranya adalah hewan ternak bisa mati.

Selain melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada para takmir masjid dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)

"Saat vaksinasi hewan harus dalam keadaan prima baru boleh mendapatkan vaksin karena ada efek sampingnya. Selain itu kmi memberikan sosialisasi dengan harapan setelah dilakukan sosialisasi maka mereka paham tentang penyakit antraks," katanya.

Sampai saat ini pihaknya masih menelusuri dari mana antraks masuk ke Gunungkidul, mengingat daerah di luar Gunungkidul seperti di Wonogiri, Pacitan, hingga Kulon Progo pernah terjadi kasus antraks, sehingga dari prediksi para ahli jauh hari Gunungkidul kemungkinan besar bisa terpapar penyakit berbahaya itu.

"Untuk saat ini penyebarannya masih disekitar grogol IV," katanya.

Pemkab Gunungkidul : Bakteri Antraks yang Ditemukan di Grogol Diperkirakan Berasal dari Luar Daerah

Kasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Veteriner, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Retno Widyastuti Menambahkan kejadian hewan terjangkit anthraks baru pertama kali terjadi di kabupaten Gunungkidul, dan ada banyak kemungkinan anthrax bisa terbawa masuk ke Gunungkidul.

"Kasus antraks baru pertama kali, tetapi masyarakat di Gunungkidul tidak panik dan mereka biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Sebelumnya kami sudah melakukan penyiraman formalin ke tempat yang terpapar antraks," pungkasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved