Yogyakarta

Gubernur DIY Sarankan Peternak Jangan Mau Ayamnya Dibeli dengan Harga Murah

Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut peternak bisa menjual ayam dengan harga wajar dan jangan mau dibayar murah.

Gubernur DIY Sarankan Peternak Jangan Mau Ayamnya Dibeli dengan Harga Murah
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Peternakan ayam broiler di Segotirto, Berbah, Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM - Harga ayam yang terlalu murah direspon oleh Gubernur DIY,  Sri Sultan Hamengku Buwono X. 

Sultan menyebut peternak bisa menjual ayam dengan harga wajar dan jangan mau dibayar murah. 

"Soal rentang harga yang terlalu murah,  dikatakan masuk akal bisa,  tidak juga bisa.  Peternak jangan mau kalau dibeli murah khan bisa, " katanya saat ditemui Tribunjogja.com usai acara penandatanganan nota kesepahaman pembiayaan Ultra Mikro, Kamis (27/6/2019).

5 Inspirasi Gaya Lebaran Ala Yaseera yang Bakal Bikin Penampilanmu Tetap Kece

Sultan juga menjelaskan, petani dalam posisi sulit terkait dengan harga ini. 

Pasalnya, mereka tak punya modal.

Bahkan, saat membeli kutuk anak ayam 100 kemungkinan mati bisa mencapai 10 sampai 15 persen.

"Yang membuat susah,  beli anak ayam di satu distributor. Jual ayam di satu distributor,  "katanya. 

Seperti diketahui rentang harga penjualan ayam potong dari peternak dengan harga daging di pasaran cukup tinggi.

Harga Ayam Anjlok, Pemerintah Harus Tetapkan Harga Acuan

Harga ayam di peternak hanya berkisar antara Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu per kg, sedangkan di pasaran naik cukup signifikan menjadi sekitar Rp 30 ribu per kg.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus mengharapkan pemerintah segera turun tangan segera mengatasi harga di kalangan peternak dengan menetapkan harga acuan atas dan harga acuan bawah baik untuk bibit, ayam hidup dan karkas.

Hal itu penting untuk penyelamatan peternak dan pelaku indutsri peternakan ayam mandiri.

Selain menetapkan harga acuan, Ali Agus juga meminta pemerintah melalui Kementerian dan Bulog bisa mengendalikan keseimbangan ketersediaan dan kebutuhan daging ayam broiler di pasaran dengan mengurangi stok produksi bibit secara transparan. (*) 

Penulis: ais
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved