Gunungkidul

PPDB SMA, Sebagian Orangtua di Gunungkidul Bingung Nilai Tinggi Kalah dengan yang Lebih Rendah

Hanya saja, tidak sedikit orangtua murid yang kebingungan karena jika nilainya tinggi namun tidak berada di sekolah pilihan pertama maka peringkatnya

PPDB SMA, Sebagian Orangtua di Gunungkidul Bingung Nilai Tinggi Kalah dengan yang Lebih Rendah
istimewa
ilustrasi PPDB 

Laporan Reporter Triunogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA telah dimulai pada hari ini, peserta didik pun mulai mendaftar.

Hanya saja, tidak sedikit orangtua murid yang kebingungan karena jika nilainya tinggi namun tidak berada di sekolah pilihan pertama maka peringkatnya bisa tergeser oleh nilai yang lebih rendah tetapi sekolah tujuan adalah pilihan pertama.

Seperti yang dialami orangtua murid, Pepniyati warga Kecamatan Rongkop, dirinya bersama anak mendaftar ke SMA N 2 Wonosari, dan merasa bingung nilai anaknya yang berjumlah 36,4 tergeser oleh nilai yang lebih rendah.

SMA Swasta Sepi Peminat Gara-gara Sistem Zonasi

"SMA N 2 Wonosari adalah pilihan ke dua sedangkan pilihan pertama SMA N Wonosari, bingung juga karena nilai anak saya tergeser oleh nilai yang lebih rendah di SMA 2 Wonosari. Ternyata harus memindah pilihan kalau ingin peringkt lebih tinggi," katanya, saat ditemui Tribunjogja, Senin (24/6/2019).

Ia mengaku belum mendapatkan sosialisasi dari pihak sekolah maupun balai dikmen mengenai adanya perubahan peraturan tersebut.

Sementara itu, Wakil Kepala sekolah bidang kesiswaan SMA 2 Wonosari membenarkan adanya perbedaan mekanisme dalam PPDB zonasi pada tahun ini dibanding dengan tahun lalu.

"Kalau tahun lalu siswa yang tidak diterima oleh sekolah pilihan pertama maka otomatis akan bergeser ke pilihan kedua, akan tetapi pada tahun ini tidak siswa harus memnindahkan pilihan secara manual jadi siswa harus log in lagi dan mengganti pilihan pertamanya," ujarnya.

Hasil Seleksi PPBD Online Tingkat SMA di Kota Yogyakarta, Bisa Cek di Sini

Jika siswa tidak memindahkan secara manual maka walaupun nilainya tinggi namun siswa tersebut terlempar ke pilihan ke dua maka siswa tersebut akan tetap kalah peringkat dengan nilai di bawahnya tetapi sekolahnya menjadi pilihan pertama.

"Misalnya ada siswa pilihan pertamanya di SMA N 1 dan pilihan ke dua SMA N 2 dan NEM 34, misalkan anak tersebut terlempar dari pilihan kedua jika anak terrsebut tidak memindahkan pilihan pertma menjadi SMA N 2 maka anak itu akan kalah peringkat jika dibanding dengan yang memang mendaftar di SMA 2 yang menjadi pilihan pertama walauapun yang memilih pilihan pertama itu NEM nya dibawah 34," paparnya.

Pihaknya mengaku kesulitan untuk menyosialisasikan peraturan ini kepada orangtua siswa dikarenakan saat ini pendaftaran secara online, banyak orangtua yang tidak datang ke sekolah dan lebih memilih mendaftar di rumah.

"Sekolah kami saja saat ini sepi karena banyak orangtua siswa yang lebih memilih mendaftarkan anaknya dari rumah karena saat ini sudah onine. 

"Tetapi banyak juga orangtua yang datang ke sekolah untuk komplain, barulah kami menjelaskan peraturannya," katanya.

Pihaknya menyiapkan satu laboratorium komputer untuk digunakan calon siswa mendaftar, dan mengganti pilihan sekolahnya. 

Tidak hanya komputer saja tetapi pihaknya juga menyiapkan pendamping yaitu dari OSIS dan juga operator sekolah.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved