Yogyakarta
Upacara Tingkeban Sebagai Simbol Pelestarian Budaya Jawa
Upacara ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan doa atas usia kehamilan ketujuh bulan juga merupakan pelestarian budaya.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Gaya Lufityanti
Tiba di acara inti siraman, upacara ini dilakukan oleh tujuh sesepuh perempuan yang sudah memiliki cucu.
• Lebaran, Jokowi Silaturahmi dengan Sri Sultan di Keraton Yogyakarta
Mereka silih berganti menyiramkan air kepada GKR Hayu.
Usai siraman, GKR Hayu kemudian melakukan wudhu.
Kemudian, pada acara selanjutnya, yakni Mecah Pamor, acara ini adalah GKR Hemas beserta RAy Nusye Retnowati memecahkan klenting berisi air yang sebelumnya digunakan GKR Hayu berwudhu, dengan cara membanting klenthing ke atas lantai dengan mengucapkan “saiki wes pecah pamore”.
GKR Hayu kemudian berganti busana kering dengan riasan rambut ukel tekuk diikuti KPH Notonegoro mengenakan busana lurik pangeran dengan nyamping senada.
Pakaian yang dikenakan diantaranya adalah Nyamping Semen Rama dan Semekan Semen Rama Bledhekan.
Berita selengkapnya dapat dibaca di Harian Tribun Jogja edisi Rabu, 19 Juni 2019.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/upacara-tingkeban-sebagai-simbol-pelestarian-budaya-jawa.jpg)