Yogyakarta

Upacara Tingkeban Sebagai Simbol Pelestarian Budaya Jawa

Upacara ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan doa atas usia kehamilan ketujuh bulan juga merupakan pelestarian budaya.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM/ Hasan Sakri
GKR Hemas menyiramkan air saat siraman dalam upacara Tingkeban atau Mitoni di komplek Keraton Kilen, kota Yogyakarta, Selasa (18/6/2019). Upacara Tingkeban atau Mitoni dalam rangka menandai usia tujuh bulan kandungan GKR Hayu tersebut merupakan upacara adat yang berkaiatan dengan daur hidup manusia ditujukan untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus menyampaikan permohonan harapan. 

Tiba di acara inti siraman, upacara ini dilakukan oleh tujuh sesepuh perempuan yang sudah memiliki cucu.

Lebaran, Jokowi Silaturahmi dengan Sri Sultan di Keraton Yogyakarta

Mereka silih berganti menyiramkan air kepada GKR Hayu.

Usai siraman, GKR Hayu kemudian melakukan wudhu.

Kemudian, pada acara selanjutnya, yakni Mecah Pamor, acara ini adalah GKR Hemas beserta RAy Nusye Retnowati memecahkan klenting berisi air yang sebelumnya digunakan GKR Hayu berwudhu, dengan cara membanting klenthing ke atas lantai dengan mengucapkan “saiki wes pecah pamore”.

GKR Hayu kemudian berganti busana kering dengan riasan rambut ukel tekuk diikuti KPH Notonegoro mengenakan busana lurik pangeran dengan nyamping senada.

Pakaian yang dikenakan diantaranya adalah Nyamping Semen Rama dan Semekan Semen Rama Bledhekan.

Berita selengkapnya dapat dibaca di Harian Tribun Jogja edisi Rabu, 19 Juni 2019.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved