Yogyakarta

Kebutuhan Donor Apheresis Terus Meningkat

Kebutuhan darah di RSUP dr Sardjito mencapai 4.300 kantong per bulan dan 30 persennya merupakan kebutuhan trombosit (apheresis).

Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Suasana buka puasa bersama dengan para pendonor apheresis di Yogyakarta, Selasa (28/5/2019) petang. 

TRIBUNJOGJA.COM - Sampai dengan saat ini, donor apheresis belum begitu populer di tengah masyarakat.

Di sisi lain, kebutuhan donor apheresis terus meningkat.

Dari informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, donor apheresis berbeda dengan donor darah biasa.

Jika donor darah biasa diambil darahnya keseluruhan, pada donor apheresis hanya diambil trombositnya saja dan prosesnya lebih lama.

5 Inspirasi Gaya Lebaran Ala Yaseera yang Bakal Bikin Penampilanmu Tetap Kece

Namun, donor apheresis ini dapat melakukan donor kembali setelah dua minggu.

Di RSUP dr Sardjito sendiri, dalam satu bulan kebutuhan darah mencapai 4.300 kantong dan 30 persennya merupakan kebutuhan trombosit (apheresis).

Kepala Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) RSUP dr Sardjito, Yogyakarta, Dr dr Teguh Triyono, Sp PK (K), mengatakan, trombosit sangat dibutuhkan bagi pasien yang memiliki kandungan trombosit sangat rendah, atau seorang pasien yang telah ditransfusi, namun trombositnya tidak naik-naik.

Bahkan pada pasien dengan keganasan tertentu atau demam berdarah, trombosit menjadi sangat penting.

"Donor apheresis adalah donor yang khusus. Harus diambil darahnya dan menunggu satu hingga dua jam baru dihubungi lagi, kemudian baru diproses dan lama. Bisa memakan waktu 60-70 menit," kata Teguh dalam acara buka puasa bersama dengan para pendonor apheresis di Yogyakarta, Selasa (28/5/2019) petang.

Teguh menjelaskan, selain donor ini sangat membantu orang lain, di sisi lain para pendonor juga memperoleh berbagai hal positif.

Di antaranya umur lebih panjang dan lebih sehat.

PMI DIY : Pendonor Darah Turun 70% Saat Puasa

Bahkan, ada yang semula harus rutin minum obat hipertensi, setelah rutin berdonor tidak lagi minum obat.

"Meski belum ada kajian ilmiah, namun para pendonor memang merasa lebih sehat dan panjang umur setelah mendonorkan darahnya. Ini mungkin karena perasaan atau sugesti, karena telah memberikan sesuatu yang berharga dan tidak ternilai," katanya.

Berkenaan dengan hal tersebut, Teguh menyampaikan apresiasinya kepada para pendonor apheresis, terlebih saat ini jumlah kebutuhan trombosit di RSUP dr Sardjito terus meningkat.

Hingga Mei ini tercatat ada 60 pendonor apheresis di RSUP dr Sardjito.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved