Ramadan

Belajar Wirausaha di Pasar Ramadan Jalur Gaza Nitikan

Pasar Ramadan yang masih beraktivitas salah satunya berada di sepanjang Jalan Sorogenen, Kampung Nitikan, Sorosutan, Kota Yogyakarta.

Tayang:
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Alexander Ermando
Penjual lauk pauk berbuka puasa di Pasar Ramadan Jalur Gaza, Kampung Nitikan, Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bulan puasa sedikit lagi akan berakhir, dan umat muslim pun akan segera merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H pada 5-6 Juni mendatang.

Meskipun demikian, aktivitas Pasar Ramadan masih tetap berjalan di lokasi-lokasi populer di Yogyakarta. Kegiatan bahkan berlangsung hingga Ramadan benar-benar berakhir.

Pasar Ramadan yang masih beraktivitas salah satunya berada di sepanjang Jalan Sorogenen, Kampung Nitikan, Sorosutan, Kota Yogyakarta.

Pasar Ramadan ini juga populer disebut sebagai Jalur Gaza. Nama tersebut, menurut Ketua Panitianya, Dedy Irianto, muncul karena ketidaksengajaan.

Sambut Libur Lebaran, Monjali Hadirkan Tambah Fasilitas Rest Area

"Jalur Gaza singkatan dari Jajanan Lauk Sayur Gubuk Asar Serba Ada. Ini sudah masuk tahun ke-11 penyelenggaraan," jelas Dedy saat ditemui beberapa waktu lalu.

Selain merupakan singkatan, Dedy menjelaskan nama tersebut juga dipilih lantaran saat itu isu Palestina sedang menghangat. Alhasil, Jalur Gaza dengan mudah menarik perhatian masyarakat Yogyakarta.

Awalnya, makanan yang dijual kebanyakan berupa lauk-pauk untuk menu berbuka. Penjualnya pun merupakan warga sekitar. Namun memasuki tahun ke-5, penjual semakin ramai dan kawasan pasar pun semakin luas.

"Sekarang ini ada sekitar 350 pedagang, dengan kawasan sepanjang 1 km Jalan Sorogenen ini," jelas Dedy.

Makanan yang dijual oleh para pedagang di Jalur Gaza tergolong beragam, mulai lauk-pauk hingga sekedar jajanan
Makanan yang dijual oleh para pedagang di Jalur Gaza tergolong beragam, mulai lauk-pauk hingga sekedar jajanan (Tribun Jogja/Alexander Ermando)

Layaknya pasar Ramadan terkenal lain di Yogyakarta, Jalur Gaza Nitikan juga memiliki keistimewaan sendiri. Salah satunya adalah banyaknya para mahasiswa dan mahasiswi yang membuka usaha di situ.

Menurut Dedy, hal tersebut berkaitan dengan kuliah mereka sendiri, yaitu Ilmu Kewirausahaan. Mereka pun mempraktekkan ilmu tersebut di Jalur Gaza.

"Kami berikan kesempatan kepada mereka untuk belajar di sini. Soal untung bisa belakangan, setidaknya mereka bisa paham tekniknya," paparnya.

Pastikan Kesiapan Pemerintah, Bupati dan Wabup Bantul Pantau Posko Mudik Lebaran

Selain itu, tiap tahun Jalur Gaza memiliki tema sendiri. Misalnya saja, pada tahun lalu Tempoe Doeloe diangkat sebagai tema besarnya. Para penjualnya pun diminta untuk tampil dengan gaya klasik. Seperti mengenakan blangkon, surjan, hingga kebaya.

Sementara pada tahun ini, Dedy mengatakan tema yang dibawa adalah Warna-Warni Ramadan. Hal tersebut ditunjukkan dengan beragam jenis makanan, mulai dari yang kekinian hingga jenis yang langka ditemukan.

Tribunjogja.com pun sempat menemukan penjual kue Cara Bikang yang tergolong langka di kawasan tersebut. Pembuatannya pun masih dengan cara tradisional, sehingga meninggalkan aroma yang khas.

"Saya berjualan di sini sejak lama. Tidak cuma pas Ramadan tapi juga di hari-hari biasa," kata Wati, pembuat Cara Bikang tersebut.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved