Yogyakarta

Tujuh Warga Konsumsi Daging Suspect Anthrax, Dinkes DIY Pastikan Warga Sehat

Melalui hasil penelusuran tersebut daging tersebut telah didistribusikan ke Kota Yogyakarta dan Kulonprogo.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Diskes DIY) melakukan pemantauan distribusi daging sapi suspect antraks Gunungkidul.

Melalui hasil penelusuran tersebut daging tersebut telah didistribusikan ke Kota Yogyakarta dan Kulonprogo.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaning Astutie mengatakan ada tujuh warga di Kulonprogo yang mengonsumsi daging tersebut.

Sementara untuk Kota Yogyakarta, daging belum sempat diolah.

Dua Orang di Gunungkidul Dinyatakan Negatif Antraks

Ia memastikan warga Kulonprogo yang mengonsumsi daging tersebut dalam kondisi sehat.

Jajarannya telah melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dari pantauan sementara tidak ditemukan gejala antraks kepada manusia.

"Untuk Kulonprogo tidak didistribusikan untuk umum, ada satu keluarga yang sudah mengonsumsi. Dari tujuh orang yang mengonsumsi sampai saat ini sehat, dan tidak ada gejala. Kami sudah melakukan pemeriksaan. Kalau untuk yang Kota Yogyakarta setahu kami belum diolah," katanya, Senin (27/5/2019).

Pihaknya terus melakukan pemantauan pada ketujuh warga Kulonprogo tersebut.

Terutama dalam 120 hati masa inkubasi.

Untuk penanganan, pihaknya juga telah memberikan antibiotik.

Ia meminta masyarakat untuk tidak khawatir sebab pemerintah sudah bergerak dan berupaya untuk melakukan pencegahan-pencegahan.

Kenali Penyebab Penyakit Antraks

“Untuk kasus penularan ke manusia lebih rentan dari luka terbuka, tidak boleh kontak dengan hewan dalam kondisi luka. Masyarakat tidak perlu khawatir, kami sudah bergerak. Untuk masyarakat harus selektif dalam membeli daging konsumsi, wajib beli ke sumber yang sudah terdaftar,”terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sasongko menjelaskan sejauh ini yang terdeteksi antraks adalah tanah.

Sementara untuk sapi, ciri-ciri terjangkit antraks masih minim.

"Tanahnya memang terdeteksi, tetapi untuk sapi ciri-cirinya masih minim. Tidak ada cairan yang keluar dari lubang-lubang alami. Tetapi upaya pencegahan tentu kita lakukan. Kami sudah minta tanah dicor untuk mengurangi penyebaran. Sudah disemprot desinfektan juga. Antisipasi-antisipasi awal sudah dilakukan, jadi masyarakat tidak perlu khawatir," jelasnya.

Terkait konsumsi daging, dia meminta warga tidak asal beli.

Warga, lanjutnya, wajib tahu asal daging sapi.

Yogyakarta sendiri memiliki standar khusus untuk daging konsumi.

Hewan ternak wajib terlampirkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).

Untuk pemotongan wajib melalui rumah potong hewan (RPH) tersertifikasi.

Ini karena di setiap RPH tersebut terdapat dokter pengawas.

Tugasnya memeriksa kesehatan hewan setibanya di RPH.

Berlanjut dengan pemeriksaan daging potong sebelum terdistribusi. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved