'Biarlah Aku Miskin dan Menanggung Beban Hidup Seorang Diri . . .'

Dirinya yang tinggal seorang diri harus tetap bertahan hidup di bawah garis kemiskinan meski mencari nafkah dengan menyadap karet

'Biarlah Aku Miskin dan Menanggung Beban Hidup Seorang Diri . . .'
SRIPOKU.COM/REIGAN RIANGGA
Potret keluarga miskin di Kabupaten PALI yang luput dari perhatian pemerintah 

Saat hingar bingar pesta demokrasi yang lalu, nenek Sainimah bahkan sama sekali tak pernah dilirik partai politik atau Caleg apalagi Capres yang sibuk mencari suara.

Bagi dirinya, politik tidak ada pengaruh bagi kehidupannya, yang dia takutkan saat ini adalah usianya yang semakin senja dan jatuh sakit, tentunya dia tidak bisa mengais rezeki lagi dan ditakutkan tidak ada orang peduli untuk merawatnya.

Diakuinya bahwa yang dia harapkan dan selalu dipinta saat berdoa adalah selalu diberi kesehatan, ataupun apabila Tuhan akan mencabut nyawanya, janganlah diberi sakit terlebih dahulu agar tidak ada orang yang ikut susah dengan kondisinya.

"Aku sudah terbiasa seperti ini, harapan untuk memperbaiki kehidupan sudah punah, apalagi harus minta-minta bantuan dari pemerintah, kalaupun ada perhatian dari pemerintah, kenapa tidak diberikan sejak dari dulu. Hanya satu permintaan aku dengan Tuhan adalah kesehatan dan aku tidak ingin menyusahkan orang lain, biarlah aku miskin dan menanggung beban hidup seorang diri," tukasnya dengan tatapan mata kosong.

Kemiskinan yang mendera nenek Sainimah di Desa Babat rupanya juga dialami Ajamudin (35) yang tinggal di sebuah gubuk yang nyaris roboh bersama sang istri, Santi (25).

Kondisi rumah Ajamudin lebih parah dari kediaman nenek Sainimah. Dinding bangunan dan atapnya yang terbuat dari daun ilalang telah lapuk dan sudah jauh tidak layak huni.

Bantuan pemerintah, tak satupun belum menyentuhnya, padahal kondisi keluarga itu sangat memprihatinkan.

Kepala Desa Babat Arka Nurawi membenarkan bahwa kedua keluarga tersebut memang tidak pernah menerima bantuan.

Padahal, pihak desa telah berulang kali mengusulkan, tetapi entah apa penyebabnya tidak pernah keluar nama Sainimah dan Ajamudin sebagai penerima bantuan.

"Kalau untuk perehapan rumah, kami berencana melakukannya melalui swadaya atau melalui dana desa, karena pemilik lahan sudah menyetujuinya dengan syarat bangunan rumah jangan permanen. Sudah kami rapatkan di desa, dan masyarakat setuju. Karena meminta bantuan dari Dinsos, alasanya, lahan pekarangan bukan milik bersangkutan," ungkap Kades.

Halaman
123
Editor: mon
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved