Bisnis

Startup Ini Mengubah Limbah Menjadi Bahan Bangunan

Kurang lebih 15 brand akan berkolaborasi dengan Mycotech dan membuat 30–40 jenis produk berbahan limbah agrikultur dan miselium.

Tayang:
Editor: Ari Nugroho
IST via Kontan.co.id
Startup Mycotech 

Kalau limbah agrikultur, pihaknya pernah mencoba pakai 15 jenis limbah, mulai dari tebu, kelapa sawit, serbuk kayu, gabah, hingga sabut kelapa.

Limbah ini bisa diperoleh dengan cuma-cuma, bahkan ada perusahaan yang membayar Mycotech untuk mengolah limbah ini.

Baca: Limbah Kayu Besar Sulitkan Pembersihan Sampah di Bendung Timbulsari

Papan yang telah jadi tersebut dijual di pasaran dengan harga berkisar Rp 300.000 per meter persegi (m²).

Diaz, sapaan akrab Ronaldiaz menuturkan, harga ini menjadi cukup mahal karena pihaknya yang masih memproduksi secara kecil.

Bila produksi dilakukan secara massal dan besar, harganya tentu akan ikut semakin menjadi murah.

Saat ini Mycotech mengusung model business to business, artinya Mycotech membuat produk berkolaborasi dengan pelaku bisnis lainnya seperti pelaku fashion dan furnitur.

Kurang lebih 15 brand akan berkolaborasi dengan Mycotech dan membuat 30–40 jenis produk berbahan limbah agrikultur dan miselium.

Pembelian produk ini bisa melalui laman Kickstarter yang tertera di Instagram Mycotech.

"Kami menggunakan jasa crowdfunding untuk proses produksi, bagi yang tertarik bisa buka Instagram Mycotech. Rencananya akan kami mulai pada 8 Maret nanti, beberapa produknya ada jam tangan, sepatu, tas, dompet, dan sebagainya," ujar Diaz.

Sepanjang tahun 2018 kemarin, Mycotech berhasil mengumpulkan pendapatan hingga Rp 9 miliar.

Catatan tersebut naik hampir 50% dibanding kan dengan 2017.

Kini fokus yang ingin dicapai Mycotech adalah memaksimalkan bisnis yang sudah ada.

Sebab, model bisnis ini bisa menaikkan brand value dan brand awareness.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Kontan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved