Sleman
Rujak Senthe dan Celeng Kewengan, Batik Langka Asal Seyegan
Sebagai negara yang menjadikan batik sebagai identitas bangsa, Indonesia memiliki motif batik yang sangat beragam.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Alexander Ermando
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sebagai negara yang menjadikan batik sebagai identitas bangsa, Indonesia memiliki motif batik yang sangat beragam.
Saking beragamnya, masih banyak jenis motif yang belum diketahui.
Salah satunya adalah batik asal Dusun Susukan, Margokaton, Seyegan, Sleman.
Ada 3 motif batik yang ternyata menjadi ciri khas dan identitas warga setempat.
Adalah Muhammad Machrus, warga Susukan yang memproduksi 3 motif batik khas tersebut.
Machrus membatik bersama sang istri, Siti Musri'ah.
Baca: Lewat Batik, Tatang Suarakan Kelestarian Alam
Machrus pun menjadi satu-satunya warga di dusun tersebut yang masih meneruskan usaha membatik.
"Cuma saya yang saat ini masih bertahan membatik dengan motif khas Susukan," jelas Machrus ditemui Tribunjogja.com beberapa waktu lalu.
Machrus menjelaskan, 3 motif tersebut adalah Gedok, Celeng Kewengan, serta Rujak Senthe.
Ia menjelaskan, motif Gedok dan Celeng Kewengan diterapkan pada kain selendang.
Sementara Rujak Senthe diperuntukkan bagi kain lebar.
Sebagai penerus keluarga dan juga satu-satunya orang yang memproduksi batik, Machrus sendiri mengakui sudah tidak lagi memahami filosofi dari 3 motif batik tersebut.
"Masih perlu kami gali, sejauh ini kami sebatas mengetahui kegunaannya di tradisi masyarakat sini," ujar Machrus.
Baca: Rumah Zakat Bina Kampung Batik Ecoprint Brontokusuman
Salah satu motif yaitu Celeng Kewengan misalnya, Machrus menjelaskan motif yang diaplikasikan di selendang ini digunakan untuk tradisi Mitoni.
Mitoni, dalam tradisi Jawa, merupakan ritual yang dilakukan saat ibu sedang mengandung 7 bulan.
Ritual ini dilakukan sebagai persiapan menjelang persalinan.
"Selendang motif ini juga digunakan untuk membedong bayi," tutur Machrus.
Machrus mulai memproduksi batik khas Susukan sejak 2010 untuk komersil.
Tidak hanya motif khas Susukan, usaha batik miliknya juga mengerjakan motif khas Sleman dan motif-motif lainnya.
Kain selendang ia lepas mulai harga Rp 125 ribu, sementara untuk kain lebar dijual mulai Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu.
Selama sebulan, Machrus mampu memproduksi 15 potong kain.
Seluruhnya dilakukan dengan metode batik tulis.
Machrus menyatakan penjualan sempat mengalami penurunan, namun dua tahun terakhir kembali meningkat.
Penjualan pun menurutnya terbantu oleh dukungan media sosial.
Baca: Motif Batik Truntum Khas Yogyakarta Bakal Mejeng di Grand Final Puteri Indonesia 2019
Namun demikian, Mahcrus belum akan memperluas jangkauan pasarnya.
Ia masih membatasi di kawasan lingkungannya saja.
"Peminatnya juga hanya dari kalangan tertentu. Namun secara umum pembelinya banyak ibu-ibu yang menjualnya lagi di pasar tradisional," jelas Machrus.
Machrus pun berharap ada yang bisa meneruskan usahanya, terutama dari generasi muda.
Apalagi ia ingin batik khas Susukan tetap terjaga kelestariannya.
"Sebab motif batik tersebut jadi identitas dari Dusun Susukan," kata Machrus.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/seorang-pekerja-sedang-membatik.jpg)