Yogyakarta

Ini Penyebab Angka Kemiskinan di DIY Masih Tinggi Menurut BPS

Ini Penyebab Angka Kemiskinan di DIY Masih Tinggi Menurut Badan Pusat Statistik

Ini Penyebab Angka Kemiskinan di DIY Masih Tinggi Menurut BPS
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Kepala BPS DIY, Johanes De Britto Priyono (kanan), saat memaparkan perkembangan ekspor-impor DIY Juni 2018, di Ruang Rapat Bima, Kantor BPS DIY, Rabu (1/8/2018). Pada Juni 2018 BPS DIY mencatatkan penurunan ekspor sebesar 33,83 persen dibanding bulan lalu dan kenaikan impor senilai 20,65 persen dibanding bulan sebelumnya. 

TRIBUNJOGJA. COM - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Johanes De Britto Priyono mengungkapkan, kurang tepatnya penyaluran dana tanggung jawab sosial perusahaan menjadi satu dari hal lain yang mengakibatkan masih tingginya angka kemiskinan di wilayah DIY.

Johanes memaparkan, dana yang kerap dikenal dengan sebutan Corporate Social Responsibility (CSR) itu, seringkali diwujudkan dalam bentuk program bedah rumah, perbaikan jalan desa, serta pembenahan saluran sanitasi untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).

Secara perbaikan kesehatan dan pengoptimalan infrastruktur masyarakat di tingkat bawah, hal tersebut dikatakannya tidak terlalu menjadi persoalan dan tetap dibutuhkan oleh khalayak umum.

"Tapi orang miskin itu kan diukurnya dari garis kemiskinan, besarnya pengeluaran. Jadi dia akan miskin apabila pengeluarannya baik untuk makan dan non makan lebih rendah dari nilai rupiah garis kemiskinan. Makanya investasi itu tidak masuk dalam aspek penghitung kemiskinan, kemudian tabungan investasi dan harta kekayaan, tidak masuk," jelas Johanes kepada Tribun Jogja, Selasa (5/3/2019).

Baca: Cek Kesiapan Akses Disabilitas, OHANA Gelar Audiensi dan Survei di Sejumlah Instansi Pemkab Sleman

Baca: Kisah Sejoli di Kulon Progo Aborsi Janin Mulai Makan Nanas Hingga Telan Obat, Kini Mereka Dipenjara

Dijelaskannya, masyarakat akan tetap digolongkan ke dalam kelompok miskin jika pengeluarannya lebih kecil dari garis kemiskinan, meskipun dalam kenyataan punya harta benda yang bisa dikatakan tidak masuk ke dalam golongan miskin tadi.

"Makanya orang desa kita itu walaupun jatinya (pohon jati-red) gede-gede, tapi kalau secara kecukupan makan kurang memenuhi standar ya tetap saja miskin," tambahnya.

Johanes juga menjelaskan, dari data yang di dapat indikator kriteria kemiskinan yang dipunyai oleh DIY termasuk lain dari yang lain. Artinya, masyarakat yang tergolong ke dalam kelompok miskin di DIY, diklaimnya tidak masuk ke dalam kriteria lingkaran setan kemiskinan yang biasa menjerat masyarakat, semisal pendidikan rendah, kesehatan minim, dan kesejahteraan yang kurang.(tribunjogja)

Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved