Kulon Progo

Menelusuri Jejak Etnis Tionghoa di Kulon Progo

Jejak komunitas warga Tionghoa di Kulon Progo seolah hampir tak tampak.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Samiyem, juru kunci makam tionghoa di Giripeni tengah membersihkan nisan. 

TRIBUNJOGJA.COM - Jejak komunitas warga Tionghoa di Kulon Progo seolah hampir tak tampak.

Namun, ada dua tempat yang menunjukkan eksistensinya; tugu pagoda di Wates dan areal kuburan di Giripeni.

Sinar matahari yang memapar Wates pada Senin (4/2/2019) siang itu terasa cukup menyengat di kulit.

Hujan yang sempat turun sebentar seperti tak mampu meredam panasnya hari.

Di tengah cuaca itu, Samiyem (58) tampak tetap bersemangat mengayunkan sapunya.

Ia tengah membersihkan nisan di bong cino Tegalembut, demikian warga setempat menyebut satu-satunya area makam warga Tionghoa di Kulon Progo yang terletak di Desa Giripeni, Kecamatan Wates tersebut.

Sehari jelang perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina, makam tersebut tak jauh berbeda dari hari-hari lainnya; sepi dan sunyi.

Tidak tampak keluarga ahli waris dari orang yang dimakamkan di situ untuk nyekar ataupun membersihkan makam.

Baca: Mie Setan dan Iblis Hidangan Mie Super Pedas di Yogyakarta

Samiyem-lah yang saban harinya bertugas menjaga dan membersihkan areal pekuburan tua tersebut.

"Di sini hanya ramai ketika ada warga keturunan Tionghoa yang meninggal dan dimakamkan di sini. Saat Imlek atau Cembengan dan beberapa waktu setelah pemakaman, biasanya ada keluarga yang nyekar, tapi tidak banyak. Selain saat-saat itu, ya sepi. Di Kulon Progo kan tidak banyak (keturunan Tionghoa)," kata Samiyem pada Tribunjogja.com.

Ia dan suaminya, Adisuparmo (60) menjadi juru kunci kuburan itu sejak beberapa tahun terakhir.

Mereka mewarisi tugas itu dari para pendahulunya selama empat generasi dari garis keluarga Adisuparmo.

Karena berbagai pertimbangan, Samiyem akhirnya berbagi tugas dengan suami untuk menjaga kuburan tersebut.

Mereka mendapat upah dari ahli waris makam itu untuk tugasnya.

Kini, setiap kali ada warga Tionghoa yang hendak dimakamkan di situ atau sekadar nyekar, pihak keluarga akan menghubunginya melalui telepon.

Baca: Imlek, Warga Tionghoa Berdoa di Kelenteng dan Berkumpul dengan Keluarga

Kebanyakan ahli waris keluarga Tionghoa itu berada di luar daerah, seperti Yogya, Klaten, Jakarta, Surabaya, dan lainnya.

Pada persiapan prosesi pemakaman, suaminya yang bakal bekerja untuk menggali liang bersama sejumlah tenaga bayaran dari warga setempat.

Liangnya tak hanya berupa tanah liat melainkan langsung dibikin dinding semen untuk selanjutnya peti jenazah dimasukkan ke dalamnya, dikubur dengan pasir dan bagian atasnya kembali dicor.

Adapun prosesi pemakaman biasanya ditangani langsung oleh pihak keluarga jenazah.

"Sekarang banyak yang memilih untuk mengkremasi keluarganya dan dilarung ke laut sehingga tidak dimakamkan di sini. Yang di sini kebanyakan hanya yang sudah tua-tua saja," kata Samiyem.

Samiyem mengaku tak hapal berapa jumlah liang makam yang ada di situ karena ia tak punya catatan khusus dan hanya menerima informasi secara lisan dari pendahulunya.

Pun makam itu menurutnya sudah ada sejak zaman kolonial.

Baca: Cerita Penjaga Kuburan Kuno Tionghoa Kulon Progo Yogyakarta, Catatan Peradaban di Bumi Menoreh

Ia memastikan ada sedikitnya sekitar seratus liang terdapat di makam itu dan nisan tertua ada di deretan terbawah pada lahan perbukitan itu meski tak tahu pasti angka tahunnya.

Kebanyakan nisan di makam itu memang menggunakan huruf cina dalam tulisannya.

Pada kelompok nisan tertua, terdapat satu nisan yang bertarikh 2 Mei 1936.

Hal itu kiranya selaras dengan sejarah kekuasaan kerajaan di Yogyakarta.

Wilayah makam itu dulunya berada di bawah penguasaan Kadipaten Pakualaman dalam teritori Kabupaten Adikarta dengan nama desanya Graulan.

Pada 1951. Kabupaten Adikarta dan Kabupaten Kulon Progo (di bawah kasultanan Yogyakarta) bersatu menjadi Kabupaten Kulon Progo seperti dikenal saat ini.

Kepala Desa Giripeni, Priyanti mengatakan pihaknya menyimpan peta bertarikh 1938 yang juga memuat adanya areal permakaman itu.

Baca: Meriahkan Imlek 2019 Jogja Bay Tampilkan Pertunjukan Barongsari vs Bajak Laut

Luasan tanahnya sekitar 1,2 hektare dan berstatus tanah putih atau tanah negeri.

Yakni, tanah perdikan milik Kadipaten Pakualaman, bukan tanah kepemilikan warga umum.

"Sejak dulu sudah ada hanya tidak bisa dipastikan kapan tepatnya tanha itu mulai digunakan sebagai makam. Dulu sempat ada pungutan desa terhadap makam di situ namun kini sudah ditiadakan," kata Priyanti.

Kasi Pemerintahan Desa Giripeni, Supriyono mengatakan saat ini pihaknya tengah mengajukan rekomendasi pemanfaatan tanah itu sebagai makam ke dinas terkait.

Hal itu lantaran sampai saat ini belum ada alas hukum yang jelas atas tanah itu.

Pihaknya masih berusaha melengkapi titik koordinat lahan tersebut.

Etnis Tionghoa di Kulon Progo saat ini memang hampir tak terlihat.

Padahal, mereka pernah mewarnai peradaban di Bumi Menoreh ini di zaman terdahulu.

Baca: Imlek, Makam Gunung Sempu Ramai Peziarah

Hal itu setidaknya terlihat dari adanya tugu pagoda.yang hingga kini masih kokoh berdiri di utara perlintasan kereta api Wates sisi timur.

Tugu tersebut merupakan persembahan dari warga Tionghoa dan diresmikan pada 23 Desember 1931 sebagai peringatan 25 tahun bertahtanya Paku Alam VII dan peringatan 100 tahun berdirinya Kabupaten Adikarto.

Di badan tugu itu terdapat prasasti berbahasa Jawa serta berhuruf Cina yang menyebutkan peringatan itu.

Sekretaris Disbud Kulonprogo, Joko Mursito pernah menyebut bahwa tugu pagoda menjadi simbol eratnya hubungan masyarakat Kulon Progo dengan warga Tionghoa dan persatuan di antara kedua belah pihak.

Saat ini, jumlah warga keturunan Tionghoa di Kulon Progo semakin sedikit, tidak lebih dari 10 kepala keluarga saja.

Mereka terjun dalam sektor perekonomian dengan berbagai usaha.

Tidak sedikit pula yang menikah dengan warga keturunan Jawa sampai beberapa keturunan.

Namun, hubungan dengan masyarakat lain terus terjaga baik karena mampu melebur dengan budaya setempat. (tribunjogja.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved