Lukisan Babad Diponegoro Bakal Menghebohkan, Pameran Akbarnya Siap Digelar di Jogja Gallery

Semua lukisan yang dipamerkan berkisah tentang drama kehidupan Pangeran Diponegoro.

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Panitia Pameran untuk Tribunjogja.com
Karya lukis cat air Galuh Tajimalela ini terpilih sebagai salah satu ilustrasi poster pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro, 1-14 Februari 2019 di Jogja Gallery, Pekapalan Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Sebanyak 50 karya lukis dari total 51 pelukis/perupa aneka aliran, akan dipamerkan di Jogja Gallery, Pekapalan Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta,  1-24 Februari 2019.

Semua lukisan berkisah tentang drama kehidupan Pangeran Diponegoro.

“Persiapan sudah hampir rampung, semua karya juga sudah terselesaikan, siap dipamerkan” kata Dr Mikke Susanto, yang jadi kurator pameran bersama Dr Sri Margana (FIB UGM). Mikke menjelaskan panjang lebar seputar pameran monumental ini.

Monumental karena untuk pertama kali dipamerkan karya-karya lukis yang khusus bercerita tentang perjalanan hidup Pangeran Diponegoro sejak kecil hingga ditipu di Magelang.

Deskripsi adegan bersumber Babad Diponegoro, yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro.

Babad Diponegoro yang ditulis Pangeran Diponegoro selama pengasingan di Manado hingga Makassar, tahun 1831-1832.

Karya sastra ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, atau “Memory of The World oleh UNESCO”.

“Ke-50 lukisan itu diambil dari adegan-adegan yang diceritakan di 50 pupuh Babad Diponegoro,” beber Mikke di rumahnya di Jetak, Godean, Kamis (17/1/2019) pagi.

Salah satu karya lukis yang akan dipamerkan dijadikan poster promosi pameran.

Lukisan itu karya Galuh Tajimalela, seniman spesialis cat air yang lukisan pertamanya tentang Diponegoro dan kudanya beberapa waktu lalu, terjual dengan harga cukup fantastis.

Mikke menyebutkan semua karya lukis yang dipamerkan dari 51 pelukis Indonesia ini memiliki kehebatan masing-masing.

Karya-karya itu juga memiliki ciri khas, pesan, makna, dan simbol-simbol sesuai kehendak pelukisnya.

“Meski semua bersandarkan pada teks Babad Diponegoro. Kita ingin para pelukisnya disiplin pada naskah penting yang dikerjakan sendiri oleh Diponegoro,” kata pengajar di ISI yang menyelesaikan master dan doktornya di UGM ini.

“Ini kisah nyata yang dituangkan dalam lukisan,” lanjut Mikke, sembari menjelaskan sekurangnya tiga catatan penting terkait proses penciptaan karya. Pertama, kurator dan para seniman yang terlibat dibebaskan untuk memvisualisasikan wajah Diponegoro.

“Tidak ada dokumen foto wajah Diponegoro yang pernah diketahui. Adanya sketsa wajah karya Adrianus Johanes (AJ) Bik yang dibuat saat Diponegoro transit di Staadhuis, Batavia pada April 1830, sesudah ditangkap. Sketsa itu menurut Mikke berdasar riset Peter Carey, tidak mencerminkan wajah Diponegoro yang sebenarnya.

“Saat disketsa itu Diponegoro sedang sakit malaria, sehingga wajahnya terlihat kurus, pipi cekung dengan tulang pipinya menonjol,” katanya. Karena memang tidak ada foto yang bisa menunjukkan wajah sahih sang pangeran, soal visualisasi wajah para pelukis diberi keleluasan berimajinasi.

Kedua, soal penampilan sosok, kurator pameran memberi kebebasan kepada para pelukis. Heterogenitas penggambaran akan menjadi ciri dari semua karya lukis yang dipamerkan.

“Selama ini, penampilan sosok Diponegoro terkesan homogen. Orba ikut andil,” kata Mikke.

Secara umum, di benak masyarakat, Pangeran Diponegoro digambarkan sosok gagah, menunggang kuda dan mengenakan jubah yang berkibar-kibar.

“Nanti kita akan lihat Diponegoro dalam penampilan lain, sebagai kanak-kanak, semasa pemuda, dan dia bangsawan Jawa,” lanjutnya.

Visualisasi sosok yang bermacam-macam (heterogen) ini menjadi catatan ketiga dari sang kurator, dan diharapkan bisa memunculkan sisi-sisi manusiawi Pangeran Diponegoro, sebagai manusia Jawa.

Masyarakat diharapkan juga bisa mendapat pengetahuan baru tentang sisi lain pahlawan nasional ini.

Mikke memberi bocoran, salah satu karya lukis mungkin akan memicu kehebohan karena visualisasi yang ditampilkan berdasarkan imajinasi sosok oleh sang pelukis. Menurut Mikke, karya ini menampilkan gaya dekonstruksi simbolik.

“Karya ini sarat pesan, dan benar-benar pas dengan konteks saat ini,” kata Mikke sembari menyodorkan foto karya dimaksud. Tribunjogja.com yang melihat lukisan itu, sekilas saja langsung terkejut. Karya lukisan ini benar-benar berpotensi viral dan memicu kehebohan.

“Nanti kita lihat bagaimana reaksi publik saat pameran dibuka,” sambung Mikke sembari tertawa.

Mikke menekankan, tajuk event ini adalah Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro. Gagasan awal datang dari Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi).

Gayung bersambut oleh Jogja Gallery, sebagai penyelenggara sekaligus tuan rumah pameran.

Mikke Susanto sebagai kurator mengakui tahap paling sulit pada proses awalnya adalah memilih pelukis yang tepat dan sesuai dengan adegan yang ditetapkan.

Ada sejumlah syarat dasar yang harus dipenuhi, karena itu tidak semua seniman lukis bisa dilibatkan dalam event bersejarah ini.

Setelah terpilih 51 pelukis, masing-masing diberi tema sesuai spesialisasi, gaya, dan corak karya lukisnya.

Khusus untuk adegan ke-50, Mikke Susanto memilih dua seniman lukis untuk menuntaskan tugasnya.

Adegan ke-50 ini berlangsung di sebuah ruangan di Gedung Karesidenan Kedu di Magelang.

Saat itu Diponegoro terperdaya tipu muslihat Jenderal De Kock.

Semua seniman yang terlibat pameran mempersiapkan penciptaan karyanya berdasar teks dan hasil riset akurat.

Bagian paling menarik dari masing-masing proses kreatif itu, para pelukis ada yang merekonstruksi adegan menggunakan model-model terpilih.

Mereka lantas memperagakan adegan persis di teks babad, yang kemudian divisualkan dalam karya lukisnya.

Galuh Tajimalela, termasuk yang melakukan proses detail ini, sebelum menuangkan dalam karya lukis cat airnya.

(Tribunjogja.com/xna) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved