Breaking News:

Yogyakarta

Objek Wisata Populer di DIY Dinilai Kurang Aksesibilitas bagi Difabel

Objek Wisata Populer di DIY Dinilai Kurang Aksesibilitas Bagi Difabel, Baik dari Segi Fasilitas, Layanan Pengelola Maupun Sistem Layanan.

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/ Siti Umaiyah
Pengunjung yang menggunakan kursi roda sedang menikmati liburan di objek wisata Gembira Loka, Rabu (26/12/2018) 

TRIBUNJOGJA.COM - Komite Disabilitas DIY menilai objek-objek wisata di DIY, seperti Gembira Loka, Pantai Parangtritis, Pantai Baron, Kraton, Benteng Vredeburg, Museum Jogja Kembali, Taman Kaliurang dan beberapa objek wisata populer lainnya dinilai kurang aksesibelitas bagi difabel.

Komisioner Bidang Pemantauan dan Layanan Pengaduan, Komite Disabilitas DIY Winarta menerangkan dari 9 objek wisata yang dipantau oleh Komite Disabilitas DIY dalam kurun waktu 6-13 Desember, kebanyakan objek wisata belum memenuhi hak-hak para difabel. Baik fasilitas, pelayanan pengelola, maupun sistem layanan.

Menurut Winata, dalam UU No 8 tahun 2016, maupun Perda DIY No 4 Tahun 2012 sudah sangat jelas diterangkan bahwa kaum difabelitas juga berhak mendapatkan kesamaan kesempatan untuk melakukan kegiatan wisata dan mendapatkan kemudahan akses, perlakuan dan akomodasi yang layak sesuai dengan kebutuhannya berbagai wisatawan.

Baca: Agar Mobil Matik Lebih Awet, Perhatikan Ini

Baca: Suara Dentuman Misterius di Jabar Terekam Lightning Detector Milik BMKG

"Di sini Pemerintah memiliki kewajiban untuk menjamin aksesibilitas bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan layanan kebudayaan dan pariwisata. Masyarakat pun juga berkewajiban mewujudkan dan mamfasilitasi terwujudnya aksesibilitas penggunaan fasilitas umum bagi penyandang disabilitas," terangnya pada Rabu (26/12/2018).

Dia menerangkan, jika akses-akses yang seharusnya dipenuhi meliputi tersedianya informasi pariwisata dalam bentuk audio, visual, dan taktil, tersedianya pemandu wisata yang memiliki kemampuan memberikan bantuan mobilitas, maupun menyediakan fasilitas pendukung bagi kaum difabelitas.

Dari hasil pantauan yang dilakukan, Winarta menyampaikan bahwa umumnya fasilitas yang ada belum aksebilitas penuh dan kurang memenuhi standar aksebilitas, informasi yang disediakan baru akses untuk sebagian ragam disabilitas, serta belum tersedianya SDM yang mampu menggunakan bahasa isyarat

"Untuk pelayanan, umumnya sudah terbangun perhatian dan empati kepada pengunjung penyandang disabilitas, namun mereka belum cukup memahami bagaimana melayani penyandang disabilitas secara tepat sesuai kebutuhannya. Mereka juga umumnya tidak memiliki SIAP dalam melayani pengunjung disabilitas," ungkapnya.

Baca: Cara dan Syarat Mengurus Penggantian Sim Card Indosat yang Hilang atau Hangus

Oleh karenanya, pihaknya mendorong Pemerintah DIY maupun Kabupaten/Kota untuk memberikan sosialisasi mengenai kewajiban penyediaan fasilitas aksesibilitas dan standar aksesibilitas.

Selain itu juga melakukan pengawasan secara rutin dan memberikan bimbingan/pembinaan dalam penyediaan fasilitas aksesibilitas di objek wisata. (tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved