Di Zona Maut Everest Ini, Batuk Pun Bisa Berakibat Kematian

Death Zone atau Zona Maut aadalahjulukan bagi medan yang berada di ketinggian 8.000 mdpl

Editor: Mona Kriesdinar
everest.id
Gunung Everest 

TRIBUNJOGJA.com - Death Zone atau Zona Maut aadalahjulukan bagi medan yang berada di ketinggian 8.000 mdpl, setara dengan ketinggian terbang sebuah kapal jet.

Mau tidak mau, para pendaki harus memasuki wilayah ini untuk mencapai puncak Everest yang berada di ketinggian 8.848 mdpl.

Pada ketinggian ini, manusia tidak bisa berdaptasi dengan baik, karena kadar oksigen yang ada di wilayah terebut hanya berkisar 30%.

Bayangkan Anda harus mendaki gunung dengan medan yang curam, terengah-engah dengan dingin menusuk tulang, serta menghirup oksigen yang hanya sepertiga dibandingkan dengan yang Anda hirup sekarang.

Baca:

Perempuan Pertama Penakluk Everest Ini Meninggal, Apa Sebabnya

Ketinggian Gunung Everest Menurun Akibat Gempa Nepal

Detik-Detik Mengerikan Saat Gempa Memicu Longsor di Gunung Everest

Selain membahayakan nyawa, julukan nama Death Zone juga diberikan karena hingga saat ini, ada sekitar 200 hingga 300 tubuh manusia yang telah tiada yang berada di zona tersebut.

Penyebab kematian itu sendiri amat beragam, mulai dari hipotermia (keadaan suhu tubuh yang terus menurun di bawah titik normal manusia), terjatuh, juga karena kehabisan oksigen.

Hal-hal kecil yang biasa kita alami sehari-hari, saat terjadi pada ketinggian ini dapat berakibat sangat fatal. Bahkan, beberapa pendaki meninggal akibat mengalami batuk saat berada di zona Death Zone.

Batuk pada kondisi lingkungan seperti ini dapat menyebabkan tulang rusuk patah.

Para pendaki yang meninggal pada death zone di biarkan membeku dan mematung, dengan berbalut pakaian terakhir yang mereka kenakan.

Pengevakuasian merupakan sebuah misi bunuh diri, apalagi dibutuhkan biaya dan sumber daya manusia yang berlimpah untuk melakukan evakuasi.

Sebuah hal yang wajar saat melihat tubuh pendaki dan melangkah melewatinya di sepanjang jalur di area Death Zone di Everest. Bahkan, tubuh para pendaki tersebut menjadi tengara bagi para pendaki yang hendak menuju puncak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved