Gunungkidul

Sumber Protein, Kepompong Ulat Jati Banyak Diburu Masyarakat Gunungkidul

Meskipun dirasa menjijikan oleh beberapa orang, tetapi ungkrung memberikan rasa yang lezat bagi para penikmatnya yaitu rasa gurih ketika digigit.

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto
Sumber Protein, Kepompong Ulat Jati Banyak Diburu Masyarakat Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Ungkrung adalah sebutan warga Gunungkidul bagi kepompong ulat pohon jati.

Biasanya ungkrung banyak ditemui saat awal-awal memasuki musim penghujan.

Meskipun dirasa menjijikan oleh beberapa orang, tetapi ungkrung memberikan rasa yang lezat bagi para penikmatnya yaitu rasa gurih ketika digigit.

Ungkrung berbentuk lonjong dan memiliki berbagai warna.

Ada yang berwarna merah dan oranye, ungkrung ini biasanya berukuran sekelingking bayi.

Wilayah yang terkenal pemasok ungkrung di Kabupaten Gunungkidul adalah Kecamatan Ngawen.

Seorang warga Kecamatan Ngawen, Gunungkidul yang ikut mencari ungkrung adalah Edy Suryanto yang tinggal Dusun Kampung Lor, Desa Kampung Ngawen.

Edy mengatakan ulat muncul sejak tiga hari terakhir.

Ia biasa mencari sekitar jam 05.00 WIB.

Waktu tersebut dipilih karena waktu tersebut ulat yang akan jadi ungkrung turun ke bawah.

Untuk mencari ungkrung sangat mudah, karena ungkrung akan berada di bawah daun-daun jati yang berguguran.

Baca: Mahasiswa UGM Olah Daun Pepaya Sebagai Imunomodulator

Tak hanya yang di bawah tetapi dirinya juga mengambil ungkrung yang masih bergelantungan di pohon jati.

"Jam 08.00-09.00 cari lagi, dan pada pukul 12.00 pulang ke rumah," imbuhnya pada Tribunjogja.com, Kamis (13/12/2018).

Edy menceritakan ia mencari tidak menggunakan alat khusus dalam mencari ungkrung.

Ia mengaku hanya menggunakan tangan dan satu buah plastik yang digunakan untuk tempat ungkrung hasil perburuannya.

Ia mencari ungkrung untuk dikonsumsi sendiri.

Biasanya ungkrung dimasak dengan berbagai macam cara, tetapi yang populer adalah dengan cara digoreng dengan bumbu bawang putih dan garam.

"Saya dengar kabar kalau satu kilo ungkrung harganya mencapai Rp 70 ribu, itupun campur dengan ulat jati," katanya.

Edy mengatakan hampir seluruh warga Dusun Kampung Lor mencari ungkrung pada pagi hari untuk dikonsumsi.

Warga bisa mendapatkan berkilo-kilo ungkrung dalam satu kali pencarian.

Menurutnya, ungkrung sangat lezat saat dimakan pada sarapan pagi hari,

"Setelah digoreng sangat enak untuk pendamping sarapan," tuturnya.

Sementara itu warga Wareng, Wonosari, Kismaya mengatakan dirinya juga gemar memakan ungkrung karena rasanya yang gurih dan juga mengandung banyak protein.

"Dulu awalnya setelah makan gatal-gatal, saat saya masih kecil tetapi sekarang saat makan saya tidak merasa gatal," ungkapnya.

Baca: Memasuki Musim Hujan, Hama Mulai Serang Tanaman Cabai di Bantul

Ia mengatakan biasanya diberi ungkrung dari tetangga sekitar yang turut mencari ungkrung di sekitar rumahnya.

"Kalau dapat biasanya cuma digoreng saja dengan bawang putih, garam, dan sedikit penyedap rasa," tuturnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, ungkrung adalah sumber protein tinggi.

"Serangga seperti ungkrung menjadi pakan alternatif untuk mengatasi kekurangan gizi karena ungkrung mengandung protein tinggi," katanya.

Raharja menjelaskan, metamorfosis yang dialami ungkrung adalah berawal dari telur, larva, pupa, imago.

Imagonya berwujud kupu-kupu berwarna kuning.

"Pupanya itulah yang disebut ungkrung oleh masyarakat Gunungkidul, Selain di pohon jati, ulat dan ungkrung juga berada di pohon besi yakni, di daerah Kecamatan Semanu dan Rongkop. Jika dikonsumsi rasanya lebih enak,” ucapnya.

Ungkrung atau ulat jati menurutnya bukanlah hama tanaman karena munculnya saat musim semi, bertahun-tahun tidak ada laporan masyarakat yang ulat jati merusak tanaman.

"Kedatangan ulat maupun ungkrung justru ditunggu sebagian masyarakat," tutupnya. (*)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved