Gunungkidul
Sumber Protein, Kepompong Ulat Jati Banyak Diburu Masyarakat Gunungkidul
Meskipun dirasa menjijikan oleh beberapa orang, tetapi ungkrung memberikan rasa yang lezat bagi para penikmatnya yaitu rasa gurih ketika digigit.
Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Gaya Lufityanti
Ia mengaku hanya menggunakan tangan dan satu buah plastik yang digunakan untuk tempat ungkrung hasil perburuannya.
Ia mencari ungkrung untuk dikonsumsi sendiri.
Biasanya ungkrung dimasak dengan berbagai macam cara, tetapi yang populer adalah dengan cara digoreng dengan bumbu bawang putih dan garam.
"Saya dengar kabar kalau satu kilo ungkrung harganya mencapai Rp 70 ribu, itupun campur dengan ulat jati," katanya.
Edy mengatakan hampir seluruh warga Dusun Kampung Lor mencari ungkrung pada pagi hari untuk dikonsumsi.
Warga bisa mendapatkan berkilo-kilo ungkrung dalam satu kali pencarian.
Menurutnya, ungkrung sangat lezat saat dimakan pada sarapan pagi hari,
"Setelah digoreng sangat enak untuk pendamping sarapan," tuturnya.
Sementara itu warga Wareng, Wonosari, Kismaya mengatakan dirinya juga gemar memakan ungkrung karena rasanya yang gurih dan juga mengandung banyak protein.
"Dulu awalnya setelah makan gatal-gatal, saat saya masih kecil tetapi sekarang saat makan saya tidak merasa gatal," ungkapnya.
Baca: Memasuki Musim Hujan, Hama Mulai Serang Tanaman Cabai di Bantul
Ia mengatakan biasanya diberi ungkrung dari tetangga sekitar yang turut mencari ungkrung di sekitar rumahnya.
"Kalau dapat biasanya cuma digoreng saja dengan bawang putih, garam, dan sedikit penyedap rasa," tuturnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, ungkrung adalah sumber protein tinggi.
"Serangga seperti ungkrung menjadi pakan alternatif untuk mengatasi kekurangan gizi karena ungkrung mengandung protein tinggi," katanya.
Raharja menjelaskan, metamorfosis yang dialami ungkrung adalah berawal dari telur, larva, pupa, imago.