Sejarah Jawa Kuna

Lingga Bertulis Ini Usianya 11 Abad, Puluhan Tahun Sang Pemilik Tak Tahu Nilai Sejarahnya

Lingga Bertulis Ini Usianya 11 Abad, Puluhan Tahun Sang Pemilik Tak Tahu Nilai Sejarahnya

Lingga Bertulis Ini Usianya 11 Abad, Puluhan Tahun Sang Pemilik Tak Tahu Nilai Sejarahnya
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Batu berbentuk lingga semu (pseudolingga) di rumah Supriyono, warga Dusun Kauman, Ngrundul, Kebonarum, Klaten ini berasal dari tahun 769 Saka (847 Masehi) atau masa Mataram Kuno pemerintahan Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu. Isinya tentang penetapan sima oleh Samgat Andehan. 

Tak banyak yang mengetahui keberadaan lingga bertulis itu, termasuk perangkat Desa Ngrundul. Kepala Desa Ngrundul, Wahyu Wijanarka, mengaku belum pernah mendengar dan melihat batu bertulis ini.

Baru awal pekan ini ia mengutus dua perangkat desa melongok dari dekat lingga bertulis di rumah warganya itu. Lalu apa isi tulisan kuno di lingga semu berbahan batu andesit ini?

Goenawan A Sambodo, epigraf dari Temanggung, Jawa Tengah mencoba membacanya. Ia menemukan angka tahun 769 Saka di prasasti itu, atau jika dikonversi ke Masehi jadi 847 Masehi.

"Jelas terbaca angka tahunnya 769 Saka. Ini berarti masa kekuasaan Sri Maharaja Rakai Pikatan," kata Goenawan. Raja besar Mataram Kuno ini berkuasa antara 840-856 Masehi.

Baca: 5 Fakta Unik yang Terselip di Tengah Kemegahan Candi Borobudur : Dari Relief Hingga Kisah Manohara

Pembacaan angka tahun oleh epigraf senior Dr Riboet Darmosoetopo juga sama. "Betul, ini angka tahunnya 769 Saka," katanya sembari mencoret-coret di kertas lusuh di teras rumahnya, Selasa (11/12/2018).

Pembacaan secara lengkap dan akurat isi prasasti batu lingga semu ini masih berlangsung dan terus disempurnakan. Goenawan Sambodo menambahkan, nama seorang tokoh juga tertulis di inskripsi ini.

"Ada nama Samgat Andehan. Sayang, tidak disebut nama tempat, desa, atau lokasinya," katanya. Batu prasasti ini menurutnya semacam patok penanda tanah perdikan yang ditetapkan oleh Samgat Andehan itu.

"Intinya, Samgat Pu Andehan itu manusuk sima, atau menetapkan tanah sima (perdikan)," lanjut Goenawan.

Tidak dicantumkannya nama tempat penetapan sima itu menurutnya cukup lazim. Namun, biasanya akan ada penanda lain yang lebih lengkap.

"Di Blabak, Magelang, saya pernah menemukan lingga bertulis yang serupa. Disebut ada penetapan sima, tapi nama tempatnya tidak disebutkan," jelasnya.

Baca: Pemasangan Batu Kemuncak Tandai Rampungnya Pemugaran Candi Kedulan

Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved