Yogyakarta

Dinas Sosial DIY Gagas Gerbangpraja untuk Degradasi Budaya

Dinas Sosial DIY menggagas konsep restorasi sosial melalui gerakan bangga penggunaan aksara jawa (gerbangpraja).

Dinas Sosial DIY Gagas Gerbangpraja untuk Degradasi Budaya
Ist
Logo Pemda DIY 

TRIBUNJOGJA.COM - Dinas Sosial DIY menggagas konsep restorasi sosial melalui gerakan bangga penggunaan aksara jawa (gerbangpraja).

Langkah ini dilakukan untuk melakukan harmonisasi kehidupan di masyarakat dan mengurangi paham radikalisme dan egoisme kelompok.

Ditemui saat kegiatan Festival Harmonisasi Masyarakat Menuju Kesejahteraan Sosial di Embung Tegaltirto, Berbah Sleman, Minggu (11/11/2018), Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi menilai Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan dan budaya telah mengalami degradasi budaya.

Penggunaan aksara jawa yang kaya filosofi kehidupan pun mulai ditinggalkan.

"Untuk itu, perlu sebuah gerakan sosial bersama yang disebut restorasi sosial. Kita gagas upaya bangga terhadap aksara jawa," tegasnya pada Tribunjogja.com.

Baca: Pemda DIY Kembangkan Desa Mandiri Budaya, Bisa Ekspor Produk Unggulan Secara Langsung

Ia mencontohkan, degradasi budaya jawa yang kini terjadi, misalnya warga tidak lagi bangga dengan budaya jawa dan aksara jawa.

Maka untuk menyulut kembali semangat bangga dengan aksara Jawa yang kaya filosofi, dilakukan komunikasi dua arah dengan menghadirkan tokoh masyarakat, ahli filosofi jawa, dan pengamat.

Gerakan yang dibangun dalam konsep Gerbangpraja, mulai dilakukan dengan menggelar kegiatan sarahesahan di beberapa kecamatan.

Baca: Pemda DIY Ingin Penataan PKL Malioboro Tidak Timbulkan Gejolak

Di antaranya di Imogiri, Sanden, Kretek, di Bantul Kokap Kulonprogo, dan Berbah Sleman.

"Kita akan canangkan di seluruh DIY mulai tahun ini hingga tahun 2019,"ucapnya.

Untuk tahun ini Dinsos DIY merencakan menggelar sarasehan di 18 kecamatan di DIY.

Selanjutnya di tahun 2019 mendatang 60 titik kecamatan menjadi target sarasehan yang dihadirkan dengan pentas musik jawa di penghujung acara yang melibatkan grup musik Genk Kobra.

Sementara Ketua Jogja Holic salah satu elemen pendukung Gerbangpraja, Ahmad Fikri berharap gerakan ini mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat sehingga semua tergerak untuk kembali bangga dengan aksara jawa.

"Karena banyak hal yang bisa dipetik, bagiamana toleransi, bagaimana kegotongroyongan. Semua jangan sampai tergerus. Yogyakarta itu kota budaya. Namun mengapa sulit ditemukan gerakan penggunaan aksara jawa," tutupnya.(*)

Penulis: nto
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved