Yogyakarta

Terkait Kasus Dugaan Kekerasan Seksual, Rektor UGM: Keduanya Dapat Pelajaran

Dalam rekomendasi tersebut sudah disampaikan 3 hal terkait penyintas, terduga pelaku, dan bagi UGM sendiri.

Terkait Kasus Dugaan Kekerasan Seksual, Rektor UGM: Keduanya Dapat Pelajaran
Tribun Jogja/ Alexander Ermando
Rektor UGM Panut Mulyono saat ditemui di Gedung Pusat UGM, Jumat (22/06/2018) 

Menurutnya penyintas memang perlu diberi keadilan yang seadil-adilnya dan kesalahan yang dilakukan terduga pelaku juga perlu diberi sanksi yang setimpal.

Meski demikian ia ingin penyelesaian kasus tersebut dapat memberi pelajaran bagi keduanya.

Baca: Rifka Annisa : Mahasiswa UGM Korban Kekerasan Seksual Sempat Alami Depresi

"Bagi penyintas kami menyampaikan simpati yang tinggi dan sangat dalam. Dan harus diberikan keadilan yang seadil-adilnya. Karena keduanya anak kami, kami ingin selesaikan dengan pola-pola yang mendidik. Agar keduanya dapat pelajaran tetapi tidak ada yang dihancurkan," ujarnya.

"Kesalahan bisa diberikan sanksi yang setimpal. Tetapi anak muda ini bisa dibangun kembali karakternya, supaya bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Kami berkeyakinan bisa menyelesaikan masalah ini dengan pola pendidikan yang nanti baik ke depannya," sambungnya.

Disinggung soal sanksi terduga pelaku, ia mengatakan wisuda masih ditunda 1 semester.

Penundaan wisuda tersebut juga sesuai dengan rekomendasi yang dibuat oleh tim investigasi.

"Jadi dia tidak akan diwisuda besok. Sesuai rekomendasi dari tim, kelulusan yang bersangkutan ditunda sampai satu semester kedepan. Itu yang diputuskan kemarin. Saya melihat secara komprehensif," tutupnya.

Ombudsman Angkat Bicara

Anggota Ombudsman RI, Dr.Ninik Rahayu, S.H.,M.S menilai penanganan pelecehan seksual di UGM seperti kasus pencurian permen. Menurutnya, pelecehan seksual bukan persoalan yang sederhana, sehingga tidak bisa hanya diselesaikan secara kekeluargaan.

"Ini kasus pelecehan seksual, terjadi kejahatan pada tubuh perempuan. tetapi seoalh-olah ini dianggap biasa, dianggap tidak ada unsur tindak pidana. Ini bukan pencurian permen atau roti, yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan," katanya saat ditemui awak media di kantor Ombudsman RI Perwakilan DIY, Sabtu (10/11/2018).

Halaman
1234
Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved