Ekonomi

Pemerintah Perlu Didorong Fokus Atasi Persoalan Ekonomi

Nilai tukar rupiah masih mengalami pelemahan terhadap dollar dikisaran 15 ribuan per dollar AS

Vladimir Trefilov / Sputnik
Dollar 

TRIBUNJOGJA.COM - Nilai tukar rupiah masih mengalami pelemahan terhadap dollar dikisaran 15 ribuan per dollar AS.

Mengutip Bloomberg, Selasa (22/5) di pasar spot rupiah sempat tercatat menguat namun melemah lagi pada sore hari di level Rp 15.246 per dolar AS.

Politisi Gerindra Andika Pandu Puragabaya mengatakan, pada beberapa kesempatan bertemu dengan warga, isu nilai tukar rupiah juga jadi bahasan masyarakat.

"Banyak aspirasi yang disampaikan terutama terkait nilai rupiah yang melemah, kondisi ini tentu berdampak pada perekonomian bangsa,"katanya.

Oleh sebab itu perlu sinergi dari pemerintah dan masyarakat untuk menjaga perekonomian.

"Mari bersama-sama kita dorong pemerintah untuk fokus bekerja memikirkan kondisi negara ini,"ujarnya.

Anggota Komisi I DPR RI ini menegaskan pemerintah harus fokus bekerja menyelamatkan perekonomian negara dan turun ke lapangan mendengar aspirasi rakyat.

Diposisi kondisi ekonomi sedang sulit, Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) menilai perlu adanya penambahan Upah Minimum Provinsi (UMP).

Menurut mereka penambahan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 8,03% tahun 2019 dinilai cukup.

Hal itu melihat kondisi perkembangan industri saat ini.

Kondisi rupiah yang melemah dinilai membuat industri ikut terbebani secara biaya produksi.

Baca: Kemkeu Usul Anggaran Dana Kelurahan Rp 3 Triliun Diambil dari Pos Dana Desa

Baca: Eksportir Asal Jogja Masih Wait and See Membidik Pergerakan Dollar

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, asumsi rupiah yang digunakan pemerintah untuk RAPBN 2019 senilai Rp 15.000 dirasa masuk akal.

“Kalau Rp 15.000 sampai Rp 15.500 itu cukup pas ya,” ungkapnya dikutip Tribunjogja.com dari Kontan.co.id.

Angka tersebut paling rasional melihat kondisi ekonomi saat ini, yang terus digempur perang dagang.

Menurutnya, dalam merancang APBN perlu keseimbangan nilai realistis dan nilai optimistis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.(*)

Editor: Iwan Al Khasni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved