Yuk, Lihat Gundukan Kubah Lava Baru Gunung Merapi dari Dusun Balerante
Aktivitas Merapi saat ini ada di fase erupsi bersifat efusif, ditandai keluarnya material lava yang kemudian membeku di puncak
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Perubahan itu terjadi karena pertumbuhan kubah lava yang rata-rata per hari 1.000 meter kubik. Angka ini terhitung rendah karena masih di bawah 20.000 meter kubik per hari.
Pantauan antara 28 September hingga 4 Oktober, kegempaan terus terdeteksi berasal dari gempa hembusan sebanyak 55 kali.
Kemudian 10 gempa vulkanik tektonik dangkal (VTB), 27 kali gempa fase banyak (MP), 148 kali gempa guguran, 31 gempa frekuensi rendah, dan 20 kali gempa tektonik.
Dari data pengukuran EDM, deformasi tidak menunjukkan peruibahan signifikan. Untuk pengukuran emisi gas, sepanjang pekan itu diperoleh data rata-rata emisi SO2 sebesar 77,96 ton/day, atau masih di kisaran normal.
Dari hasil pengamatan dan analisis itu, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan tetap berstatus "Waspada".
Terkait aktivitas vulkanik dan statusnya itu, BPPTKG Yogyakarta merekomendasikan radius 3 kilometer dari puncak gunung harus steril.
Masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III seperti disampaikan Kepala BPPTKG Yogyakarta, Nanik Humaida, diminta meningkatkan kewaspadaan.
Peristiwa agak menonjol di kawasan lereng dan puncak, yang terpantau petugas dari Pos PGM Babadan, terjadi Senin (8/10/2018).
Terlihat pasir halus dan debu vulkanik di lereng barat beterbangan cukup pekat, akibat tiupan angin kencang berkecepatan 40 kilometer per jam.
Feneomena ini dinilai tidak membahayakan karena kemarau membuat material pasir dan debu di permukaan lereng gunung sangat kering dan mudah terbang karena terpaan angin. (Tribunjogja.com/xna)