Pendidikan

UGM Sediakan Pekerjaan Paruh Waktu bagi Mahasiswa yang Terdampak Gempa

UGM memberikan bantuan yang dapat meringankan beban mereka, seperti memberikan pekerjaan kepada mahasiswa, hingga menggratiskan UKT.

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Rektor ugm saat diwawancarai , senin (8/10) 

Baik dari mahasiswa vokasi hingga mahasiswa yang menempuh pendidikan S3.

Bencana yang menimpa Sulawesi Tengah juga menghancurkan bangunan kampus Universitas Tadulako (Untad).

Akibatnya, kegiatan perkuliahan di Untad saat ini terpaksa harus dihentikan sementara waktu, selama proses rekonstruksi bangunan dan sistem operasi kampus Untad.

Atas dasar itu, pihak UGM membuka pintu bagi mahasiswa Untad untuk berkuliah di UGM melalui program sit-in.

UGM juga akan menyadiakan asrama bagi mereka saat tinggal di Jogja.

Berbeda dengan Universitas Mataram (Unram) di NTB, pihak mereka belum ada permintaan agar mahasiswanya dapat sit-in di kota lain.

Panut menuturkan, meski beberpa perkuliahan di Unram masih dilangsungkan di tenda-tenda, hal itu bukan karena bangunannya yang tidak bisa dipakai, namun karena rasa trauma para korban.

"Kalau Untad, rektornya sudah mengeluarkan surat terbuka, meminta agar perguruan tinggi lain bisa menampung mahasiswanya. Prinsipnya ketika Unram minta, maka kami akan sediakan tempat sama seperti Untad. Mahasiswa sit-in ini tidak dipungut biaya, kami berikan fasilitas yang sama seperti mahasiswa UGM yang alin. Ketika di sini masih ada tempat untuk menampung seperti asrama, maka kita fasilitasi juga," ungkapnya.

Bantuan dari UGM ini pun diapresiasi oleh mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana.

Kurniawan Mauludi (22) mahasiswa jurusan Kimia fakultas Mipa UGM mengatakan saat gempa, perekonomian di tempat asalnya, yakni di Lombok Timur, mati.

Orangtuanya pun kesusahan untuk membiayai dirinya yang tengah berkuliah di Yogyakarta.

"Bantuan ke arah peringanan biaya seperti UKT dan tempat tinggal untuk yang terdampak gempa ini sudah cukup membantu kami," terangnya.

Sedangkan Budi Andresi (28,) mahasiswa Magister Teknik Geomatika mengatakan tempat tinggalnya di Palu yang hanya berjarak empat kilometer dari pantai juga mengalami kerusakan.

"Bersyukur dan berterimakasih atas bantuan yang diberikan UGM, sangat membantu karena saat ini keadaan di sana masih sangat memprihatikan, dan ekonomi sudah lumpuh. Beruntung saya di sini dapat beasiswa, tapi banyak teman-teman yang membiayai diri sendiri merasa kesulitan. Saya berharap keringanan biaya ini setidaknya bisa berlangsung selama dua semester," paparnya. (*)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved