Yogyakarta

Ratusan Mahasiswa Papua Adakan Aksi Damai

Dalam 1 tahun terakhir setidaknya sudah ada sepuluh kekerasan yang menimpa mahasiswa Papua.

Ratusan Mahasiswa Papua Adakan Aksi Damai
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
IPMA Papua saat melakukan aksi damai di depan kantor Gubernur DIY pada Kamis (4/10/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM – Ratusan mahasiswa Papua yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMA-PAPUA) mengadakan aksi damai di kantor Gubernur DIY pada Kamis (4/10/2018).

Presiden IPMA-PAPUA Aris Yelmo mengungkapkan, saat ini mahasiswa Papua merasa tidak lagi nyaman bagi warga (mahasiswa) Papua.

Baca: Mahasiswa Papua Berikan Bunga Pada Hariyadi Setelah Upacara

Aris menjelaskan, dalam 10 tahun terakhir, sudah tercatat puluhan kasus kekerasan yang menimpa mahasiswa Papua dan belum ada pengusutan secara tuntas dari pihak kepolisian.

Mulai dari penculikan dan pembunuhan terhadap Jessica Ellisabeth Isir di tanggal 1 Mei 2010, pemukulan kepada Phaulus Petege yang berakibat kematian pada tanggal 4 Juni 2014, pembacokan terhadap Yaved Adii di tanggal 16 Maret 2015.

Dia juga mengungkapkan, dalam 1 tahun terakhir setidaknya sudah ada sepuluh kekerasan yang menimpa mahasiswa Papua.

“Dalam setahun terakhir, setidaknya terdapat sepuluh kekerasan yang belum diusut secara tuntas oleh pihak kepolisian. Kami takut jika hal ini tidak diselesaikan, akan timbul kasus-kasus serupa ke depannya,” ungkapnya.

 Dia mengatakan, dalam kurun waktu kurang dari dua bulan terakhir (Agustus-September 2018) terdapat beberapa kasus, diantaranya pengepungan dan penodongan menggunakan senjata api dan senjata tajam di asrama Puncak Jaya pada 8 Agustus 2018, penusukan terhadap Kemis Murib pada 12 September 2018 di ST Bear, perampasan sepeda motor dan pemerasan terhadap Aprilia W di Ring Road Utara pada 21 September 2018, serta pembacokan terhadap Rolando Nauw di Timoho pada 29 September 2018.

Aris mengatakan, dari kasus-kasus diatas, tidak satupun pelaku kekerasan ditangkap oleh pihak kepolisian.

Meskipun pihaknya sudah melakukan pelaporan beserta bukti dan saksi.

Baca: Ibu-ibu di Fakfak Papua Barat Raup Puluhan Juta dengan Membuat Abon Ikan

Oleh karenanya, pihaknya menuntut agar Gubernur bisa mendesak pihak kepolisian bisa secepatnya mengusut dan menuntaskan semua kasus kekerasan, memberikan kenyamanan bagi pelajar dan mahasiswa Papua yang sedang melakukan study di DIY, memberantas premanisme di DIY serta memberikan jaminan dan ruang kebebasan kepada mahasiswa Papua.

“Kami di sini ingin agar Gubernur bisa mendesak pihak kepolisian untuk segera mengungkapkan kasus yang pernah terjadi. Kami juga ingin Gubernur bisa sosialisasi ke masyarakat untuk menghilangkan stereotip yang ada di masyarakat, agar kami juga bisa kuliah dan melakukan aktifitas belajar di DIY,” terangnya. (*) 

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved