Yogyakarta
Lama Kosong, Bioskop Permata Akan Dimanfaatkan Kembali
Dinas Kebudayaan DIY melalui Balai Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya melakukan akan pemugaran pada Bioskop Permata.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kebudayaan DIY melalui Balai Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya melakukan akan pemugaran pada Bioskop Permata.
Kasi Balai Pelindungan dan pengembangan Balai PWBCB Dinas Kebudayaan DIY, Agus Suwarto mengatakan aset Puro Pakualaman itu nantinya akan dijadikan untuk pusat dokumentasi dan informasi film.
Ia menjelaskan pemanfaatan bioskop permata menjadi pusat dokumentasi dan informasi film merupakan tindak lanjut atas permohonan dari Puro Pakualaman.
"Bioskop Permata itu kan sudah lama sekali tidak digunakan, Puro Pakualaman mohon itu dijadikan pusat dokumentasi dan informasi film. Ya karena dirasa saat ini anak muda kurang tempat untuk belajar film. Jadi nantinya diharapkan bisa menjadi wadah bagi anak muda yang suka film," katanya pada Tribunjogja.com, Rabu (3/10/2018).
Ia menjelaskan sebagai cagar budaya, pihaknya akan melibatkan arkeolog dalam pemugaran.
Akan ada tim sendiri untuk pemugaran bioskop.
Hal itu supaya sesuai dengan kaidah pemugaran cagar budaya.
Pihaknya pun akan mengembalikan Bioskop Permata seperti seperti semula.
Pemugaran akan dilakukan secara bertahap.
Tahapan pertama adalah pembersihan bagian luar, kemudian bagian atap,kemudian pengecatan bagian dalam.
Agus mengungkapkan bagian atap Bioskop akan dilakukan konservasi.
Hal itu dilakukan karena bahan seng untuk atap masih sangat bagus.
"Atap itu akan dilakukan konservasi, itu kan dari seng. Masih bagus banget, kalau mau diganti, tidak ada yang kualitasnya sebagus itu. Makanya cuma dikonservasi, akan dicat saja, masih digunakan," jelasnya.
"Bagian dalam juga akan dikembalikan. Seperti semula. Kalau warna aslinya krem, ya nanti dicat warna krem. Jadi dikembalikan seperti semula. Bagian luar itu ada yang bukan termasuk cagar budaya, itu nanti akan dihancurkan supaya bisa parkir, meskipun kecil," lanjutnya.
Tahun ini pihaknya hanya fokus pada bagian luar terlebih dahulu.
Pengerjaan lebih lanjut akan diserahkan pada pihak ketiga dengan anggaran sekitar Rp 800an juta pada 2019 mendatang.
Terkait dengan pemugaran, Agus mengungkapkan pihaknya sudah berdiskusi dengan warga terdampak.
Dalam diskusi tersebut warga sangat menyetujui dan mendukung.
"Sudah ada diskusi, malah didukung. Semoga dengan ini bisa mengembangkan perfilman di Yogyakarta," tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)