Pendidikan

Hasil Survei Mengatakan Korupsi Masih Menjadi Hal yang Wajar

Hasil survei menyatakan, warga di Indonesia cukup banyak yang berpandangan bahwa korupsi merupakan hal yang wajar.

Hasil Survei Mengatakan Korupsi Masih Menjadi Hal yang Wajar
kompasiana.com
ilustrasi korupsi 

TRIBUNJOGJA.COM - Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia menyelanggarakan diskusi publik, Rabu (26/9/2018).

Kegiatan ini mengangkat tema Korupsi, Religiusitas dan Demokrasi. Temuan Survei Nasional Opini Publik Lembaga Survei Indonesia.

Baca: Bahas Aset dan Utang Negara, Sri Mulyani Beri Pesan Ini Untuk Mahasiswa UGM

Acara ini diselenggarakan sebagai sikap reflektif terhadap pemaknaan korupsi dan demokrasi di Indonesia saat ini.

Direktur Eksekutif LSI, Kuskrido Ambardodhi dalam diskusi ini mengungkapkan temuan baru yang terjadi di Indonesia berdasarkan hasil survei yang mereka lakukan.

Ia menyebut warga di Indonesia cukup banyak yang berpandangan bahwa korupsi merupakan hal yang wajar.

Warga juga masih cukup banyak yang menilai kolusi dan nepotisme sebagai sesuatu yang normal atau perlu dilakukan untuk memperlancar proses.

"Hal ini membuat relasi antara korupsi dengan demokrasi tidak signifikan positif. Di satu sisi, warga secara kuat mendukung demokrasi tetapi tidak serta merta bersikap anti korupsi," ucapnya pada Tribunjogja.com.

Warga yang tergabung sebagai anggota organisasi, baik organisasi keagamaan maupun sekuler masih banyak yang tidak punya sikap atau bahkan pro korupsi.

Ia juga menyebut, warga yang tergabung sebagai anggota organisasi, baik organisasi keagamaan maupun sekuler masih banyak yang tidak punya sikap atau bahkan pro korupsi.

Lebih lanjut, di antara warga muslim, mereka yang merasa berafiliasi dengan ormas Islam cenderung bersikap pro korupsi, meskipun mereka secara signifikan juga cenderung mendukung demokrasi.

Hal ini makin menunjukkan bahwa antara sikap terhadap korupsi dan demokrasi tidak selaras, terutama jika ditelusuri dari keanggotaan dan afiliasi organisasi warga muslim.

Data survei juga menunjukkan bahwa warga yang lebih muda dibandingkan yang lebih tua, justru lebih banyak yang bersikap pro korupsi dan sebaliknya, lebih sedikit yang bersikap anti korupsi.

"Data ini mengarahkan pada ketidakpuasan pemuda terhadap kinerja pemerintah dalam melawan korupsi," terangnya.

Menanggapi hal tersebut, dosen dari program studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM, Mohammad Iqbal Ahnaf mengatakan bahwa agama, intoleransi, dan sikap terhadap korupsi bisa terjadi karena adanya ambiguitas etik, persepsi tentang penebusan dosa, dan praktek politik pengalihan isu.

"Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh tokoh-tokoh agama maupun organisasi keagamaan agar lebih gencar menumbuhkan sikap anti korupsi," ucapnya.(*)

Penulis: nto
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved