Sleman

Alih Fungsi Lahan Meluas, Sleman Masih Mampu Hasilkan Surplus Beras

Meski alih fungsi lahan semakin tinggi, nyatanya Sleman masih mampu menghasilkan produksi beras yang tinggi.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Penanaman benih padi di Sendangmulyo, Minggir, Sleman oleh anak-anak setempat, Senin (10/09/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja Alexander Ermando

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun turut hadir dalam peresmian Jamaah Tani Muhamadiyah (JATAM) pada Senin (10/09/2018).

Ia juga sempat berinteraksi dengan warga Desa Sendangmulyo, Minggir, Sleman.

Pada kesempatan tersebut, Muslimatun sempat menyinggung tentang meluasnya ahli fungsi lahan di Sleman.

"Kami mengaku prihatin dan malu karena banyaknya lahan pertanian di Sleman yang berubah fungsi," ungkap Muslimatun di hadapan warga.

Baca: Tanam Raya Tandai Peresmian Jamaah Tani Muhammadiyah di Minggir Sleman

Meski alih fungsi lahan semakin tinggi, nyatanya Sleman masih mampu menghasilkan produksi beras yang tinggi.

Bahkan Sleman masih dianggap sebagai lumbung padi untuk DIY, lantaran produksi berasnya tertinggi dibandingkan kabupaten lain.

"Pada tahun 2017 saja kita berhasil surplus beras sebesar 101,277.92 ton," ujar Muslimatun.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Heru Saptono menjelaskan bahwa pihaknya berfokus pada indeks panen (IP) dan tingkat produktivitas hasil pangan mereka.

Selain itu, mereka juga meminimalisir penggunaan pupuk kimia dan mengutamakan pupuk organik.

Baca: Ketum PP Muhammadiyah: Batasi Impor, Masyarakat Dianjurkan Mandiri

"Saat ini IP kita masih 2,6 per tahun. Itu artinya dalam setahun kita panen minimal 2 kali. Nah ini kita sedang berupaya agar lebih meningkat," jelas Heru saat ditemui di Minggir, Sleman.

Agar IP meningkat, Heru mengungkapkan saat ini pihaknya sedang bekerjasama dengan pakar pangan untuk menghasilkan varietas padi yang umurnya pendek.

Jika umur padi pendek, maka hasil panen secara otomatis akan meningkat. Siklus panen padi pun bisa lebih dari 2 kali dalam setahun seperti saat ini.

"Intinya kita lakukan inovasi terus menerus agar Sleman tetap bertahan sebagai lumbung padi DIY," kata Heru.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved