Sleman

Staf Keswamas RSJ Ghrasia: ODGJ Perlu Diterima, Bukan Dikucilkan

Sebagian besar masyarakat masih menganggap ODGJ sebagai penyakit yang berbahaya. Padahal, menurut Aspi, tidak semua ODGJ menunjukkan hal tersebut

Staf Keswamas RSJ Ghrasia: ODGJ Perlu Diterima, Bukan Dikucilkan
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Staf Kesehatan Jiwa Masyarakat (Keswamas) RSJ Ghrasia, Aspi Kristiati di workshop Yayasan Satunama, Kamis (23/08/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja Alexander Ermando

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Staf Keswamas RSJ Ghrasia Aspi Kristiati menyayangkan stigma negatif yang masih melekat pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Padahal, ODGJ sendiri ingin diterima dan dianggap biasa seperti orang lainnya.

"Mereka juga ingin bekerja, menikah, dan sebagainya," kata Aspi di Yayasan Satunama, Kamis (23/08/2018).

Menurut Aspi, ODGJ harus didekati berdasarkan kebutuhan mereka, bukan berdasarkan keinginan keluarga dari ODGJ.

Baca: Terkait Pelayanan Kesehatan Jiwa, DIY Diharapkan Jadi Contoh Bagi Provinsi Lain

Ia pun menyebut bahwa RSJ Ghrasia melakukan pendekatan terhadap keluarga serta pasien ODGJ dalam suatu forum bernama Paguyuban Laras Jiwo.

"Mereka bisa saling dukung dan saling memahami satu sama lainnya di situ," jelas Aspi.

Sebagian besar masyarakat masih menganggap ODGJ sebagai penyakit yang berbahaya. Padahal, menurut Aspi, tidak semua ODGJ menunjukkan hal tersebut.

Bersama dengan pemerintah setempat, pihaknya pun bekerjasama untuk mengubah pandangan negatif masyarakat tentang ODGJ.

Baca: Yayasan Satunama Gelar Workshop Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa

"Baru-baru ini kita bentuk Desa Siaga Sehat Jiwa. Warganya kami berikan pemahaman tentang bagaimana mendeteksi dan memahami perilaku ODGJ," papar Aspi.

Program ini pun juga memberikan panduan kepada warga tentang bagaimana cara menangani ODGJ serta langsung melaporkannya ke rumah sakit jiwa atau puskesmas terdekat.

Lewat workshop yang digelar di Yayasan Satunama, Aspi berharap agar warga serta pemegang kebijakan memahami secara tepat tentang bagaimana sistem penanganan ODGJ yang sesuai prosedur.

"Kita dorong masyarakat agar mereka mau memahami ODGJ, sehingga mengurangi stigma negatif pada mereka," tutur Aspi.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Alexander Aprita
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved