Fenomena SPG 'Bispak' di Semarang, Tarif Grade A Sekali Kencan Hingga Rp 4 Juta

Menurut narasumber, ada satu agency sales di Semarang yang pemiliknya menyediakan SPG-SPG bisa di-booking order (BO) untuk

Editor: Mona Kriesdinar

Modus transaksi SPG plus-plus, sepengatahuan Budi, paling sering adalah dilakukan dengan pemesanan dari mulut ke mulut.

Jika seseorang mencari PSK berlatar belakang SPG, dia menambahkan, lebih mudah mendapatkannya dari orang yang sudah pernah menggunakan jasanya.

Namun jika berburu langsung, menurut dia, diperlukan keterampilan komunikasi yang baik.

Sebab, seorang SPG tidak akan mungkin mendeklarasikan dirinya bisa di BO secara terang-terangan.

"Harus ada pendekatan khusus lebih dulu, ajak ngobrol, pergi makan atau jalan-jalan," katanya.

Jika pun ada SPG yang ketika sedang bekerja mendeklarasikan dirinya bisa di-BO, Budi menyatakan, biasanya pelanggan itu adalah orang pilihan yang memang dinilai sesuai dengan kriteria.

Dia menambahkan, SPG plus-plus lebih suka orang yang secara usia lebih tua, memiliki jabatan tinggi, dan tentunya berduit.

"Bagi dia (SPG bispak-Red), cowok ganteng nggak penting kalau nggak punya duit. Kriteria-kriteria itu juga membuat identitas SPG plus-plus ini lebih privat atau aman, karena sama-sama saling merahasiakan," terangnya.

Tarif

Terkait dengan tarif SPG bispak, Budi menuturkan, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan PSK di lokalisasi. Untuk satu kali kencan, minimal mereka mematok tarif Rp 1 juta, belum termasuk biaya lain-lain seperti makan dan hiburan.

"Karena orang yang mencari SPG plus-plus ini mencari sensasi berbeda layaknya orang pacaran, pergi makan, clubing, nongkrong, baru eksekusi. Berbeda dengan PSK murni yang maunya cuma berhubungan seksual," jelasnya.

Budi berujar, harga itu tentu saja lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan normal mereka sebagai SPG.

Menurut dia, seorang SPG dengan tampilan fisik grade A, yaitu cantik, putih, dan tinggi tarif per harinya minimal Rp 400 ribu untuk delapan jam kerja.

"Untuk SPG grade A ini tarif BO-nya juga mahal, bisa sampai Rp 3 juta-Rp 4 juta sekali kencan," tuturnya.

Seorang SPG yang menjadi PSK, dia menambahkan, mayoritas terdorong karena gaya hidup, bukan lagi kebutuhan.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved