Ikan Arapaima Gigas, Ternyata Dia Mampu Mengambil Oksigen Langsung dari Udara

Beberapa di antaranya adalah Arapaima Gigas, Alligator, Sapu-sapu, serta Red Tail. Jenis ini juga sedang populer dijadikan peliharaan.

Tayang:
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Iwan Al Khasni
BBC
Ikan Arapaima dewasa bisa mencapai panjang tiga meter dengan bobot 180 kilogram. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sejumlah ikan predator berbahaya atau invasive dimusnahkan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta (BKIPM Yogyakarta).

Kasubsi Pengawasan Pengendalian dan Informasi Stasiun BKIPM Yogyakarta Haryanto menyatakan ikan predator berbahaya dilarang dipelihara di perairan umum.

Apabila ikan tersebut masih tetap dipelihara, maka pemiliknya akan dikenai sanksi sesuai UU No. 31 tahun 2004 yang kemudian diubah jadi UU No. 45 tahun 2009 tentang Perikanan. "Pemiliknya bisa didenda Rp 1 miliar serta kurungan penjara 6 tahun," kata Haryanto di BKIPM Yogyakarta, Selasa (07/08/2018).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014, setidaknya ada 152 jenis ikan yang dianggap predator berbahaya atau invasive.

Beberapa di antaranya adalah Arapaima Gigas, Alligator, Sapu-sapu, serta Red Tail. Jenis ini juga sedang populer dijadikan peliharaan.

Haryanto pun menghimbau masyarakat agar tidak memelihara jenis-jenis ikan tersebut, terutama di perairan umum. Para pemilik, kolektor, hingga pedagang ikan pun akan diberikan sosialisasi tentang bahayanya ikan-ikan ini.

Bagaimana sebenarnya ikan Arapaima itu? berikut penjelasannya dikutip Tribunjogja.com dari rilis LIPI:

Ikan Arapaima Gigas adalah salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki bentuk unik. Hal ini membuat siapa saja akan tertarik dengan jenis ikan satu itu. Namun ikan Arapaima Gigas ternyata cukup berbahaya.

Terutama untuk ikan asli Indonesia karena bersifat karnivor/predator, makanannya berupa ikan jenis lain, krustasea, katak, burung yang dijumpai di sekitar permukaan perairan.

Keberadaan Arapaima Gigas apabila sampai masuk ke perairan umum Indonesia akan sangat berbahaya bagi fauna akuatik asli Indonesia. Ikan tersebut dapat menjadi kompetitor untuk ikan asli dalam mendapat makanan maupun pemanfaatan ruang, bila ukurannya sama dengan ikan asli. Namun mengingat ukurannya dapat mencapai 3-4 meter dengan berat ratusan kilogram, tentu bisa menghabiskan fauna akuatik asli di perairan manapun.

Kemampuan bertahan ikan Arapaima Gigas di perairan umum sangat baik, meskipun kondisi perairan yang tidak bagus karena ikan ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Struktur insang hanya berfungsi saat masih juvenil (remaja).

Ikan Arapaima Gigas yang ditemukan nelayan di Sungai Brantas Rolak Surabaya, Selasa (3/7/2018).
Ikan Arapaima Gigas yang ditemukan nelayan di Sungai Brantas Rolak Surabaya, Selasa (3/7/2018). (SURYA/FATKHUL ALAMY)

Baca: Pelihara Ikan Alligator dan Arapaima, Siap-siap Didenda Rp 1 Miliar

Seiring dengan pertumbuhan ikan itu, insang tersebut mengalami transisi menjadi paru-paru primitive yang memungkinkan ikan ini untuk beradaptasi di lingkungan yang buruk dan rendah kadar oksigen sekalipun.

Hal lainnya adalah induk Arapaima Gigas mempunyai pola pengasuhan, jantan dan betina bekerja sama membuat lubang dengan lebar sekitar 50 cm dan kedalaman 20 cm. Betina akan meletakkan telurnya yang dapat mencapai 50.000 butir di lubang tersebut. Lalu, jantan membuahi telur dan telur itu pun dijaga dengan baik oleh si jantan. Selain itu, warna kepala ikan ini berubah menjadi lebih gelap untuk melindungi keberadaan junvenilnya yang baru menetas. Setelah anak-anaknya cukup besar, induk jantan warnanya kembali lebih cerah dan berenang meninggalkan mereka.

Di negara asalnya, Brasil, ikan Arapaima Gigas sudah mengalami overfishing. Sehingga, pemerintah Brasil melarang untuk menangkapnya sejak tahun 2001, namun illegal fishing masih terus berlanjut hingga diduga populasinya semakin menurun.

Menurut World Conservation Monitoring Centre, ikan ini telah masuk dalam Red List of Threathened Species IUCN 1996, walaupun IUCN belum menetapkan status karena tidak adanya data mendetail tentang status populasinya.

Arapaima Gigas telah pula masuk dalam list Convention International Trade in Endangered (CITES) dan tergolong Appendix II, berarti ikan spesies ini belum mengalami kepunahan, namun harus dikontrol perdagangannya untuk mencegah hal-hal yang berimbas pada kelestarian, keberadaannya di alam.

Arapaima Gigas dinamai pirarucu oleh masyarakat lokal di sepanjang Sungai Amazon yang artinya ikan merah. Penamaan ini berdasarkan pancaran kemerahan dari sisik-sisik ke arah ekor dan juga warna kemerahan-oranye dari filet dagingnya.

Ikan itu merupakan ikan air tawar endemik Sungai Amazon yang dideskripsi oleh seorang dokter dan naturalis dari Swiss, Prof. Dr. Heinrich Rudolf Schinz. Ikan ini telah dipublikasikan tahun 1822. Ikan Arapaima Gigas berasal dari daerah aliran sungai (DAS) Amazon, Brasil. Selain itu, ikan ini juga dijumpai di negara-negara lain sepanjang Sungai Amazon lainnya, yaitu Kolombia, Equador, Guyana, dan Peru. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved