Bantul

Mulai Surut, Warga Berharap Luapan Air Laut di Lahan Pertanian Baros Segera Hilang

Mulai Surut, Warga Berharap Luapan Air Laut di Lahan Pertanian Baros Segera Hilang

Tribun Jogja/ Susilo Wahid
Sejumlah warga melihat sodetan hasil gotong royong warga di bibir pantai selatan Bantul untuk mengalirkan luapan air di lahan pertanian warga Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Jumat (3/8/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM - Warga sekitar Baros dan Muneng, Tirtohargo sedang harap-harap cemas melihat kondisi luapan air payau yang menggenai puluhan hektar lahan pertanian mereka sepekan terakhir.

Air laut yang mulai surut pada Jumat (3/8/2018) sore menjadi sumber pengharapan mereka.

Pantauan Tribun Jogja di lokasi lahan pertanian warga di Baros dan Muneng pada Jumat sore, permukaan air payau masih cukup tinggi.

Bahkan, luapan sudah mencapai selokan tepat di sisi selatan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Diperkirakan ada lebih dari 21 hektar lahan pertanian yang terendam.

Di daerah Baros ini nyaris sudah tidak ada lagi aktifitas pertanian di lokasi.

Hanya sebagian warga saja yang lahan pertaniannya tak terlalu terkena dampak parah nampak berupaya menyedot air dengan pompa untuk dibuang.

Itupun, harus dengan lima pompa air sekaligus. Sebagian lagi, hanya melihat lahan terendam.

Sementara di pinggir pantai, tampak puluhan warga yang sedang beristirahat.

Sudah sejak Selasa (31/7/2018) lalu mereka bergotong royong membuat sodetan di pantai sebagai jalan luapan air di lahan pertanian mengalir kembali ke laut. Kabarnya, baru Jumat kemarin ada hasil cukup memuaskan.

“Sebelumnya kalau dibuat sodetan selebar dua meter, paling lama bertahan dua jam. Setelah itu sodetan tertutup pasir yang terdorong gelombang tinggi. Sodetan ini tadi sudah bisa bertahan lama dan tidak kembali menutup. Sepertinya air laut mulai surut,” kata salah satu warga Baros, Ngatijo.

Ngatijo mengatakan, selama ini warga bergantian membuat sodetan secara manual memakai cangkul dan sekop.

Datang sejak pagi sekitar pukil 06.30, warga baru pulang saat matahari terbenam. Alat berat yang sempat diturunkan Pemkab Bantul, dipandang terlalu kecil untuk mengeruk pasir.

“Harusnya alatnya lebih besar supaya bisa mengeruk pasir supaya maksimal dan sodetan lebih lebar. Meskipun air sudah bisa mengalir di sodetan tapi saya masih was-was juga nanti malam saat pasang pasir nutup lagi. Saya cuma ingin luapan air di ladang saya segera turun,” kata Ngatijo.

Sementara itu Nugroho, Sekretaris Satlinmas Wilayah 4 Pantai Samas mengaku masih ikut memantau upaya warga sekitar Baros untuk membuat sodetan di pantai.

Sejumlah relawan dan anggota SAR, juga secara kontinyu ikut turun langsung membuat sodetan dengan peralatan yang tersedia.

“Kami akan tetap stand by di lokasi pantai tempat sodetan sampai air di lahan pertanian warga sudah benar-benar surut. Secara bergantian kami dan relawan selalu berada di lokasi. Kami juga berharap air segera surut karena memang para petani sangat dirugikan,” ujar Nugroho. (tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved