Yogyakarta

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Yogya Alami Penurunan

Dari tahun sebelumnya sebanyak 471 kasus yang tercatat, di semester pertama tahun 2018 terdapat 210 kasus yang dilaporkan ke DP3AP2KB.

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Yogya Alami Penurunan
IST
Ilustrasi 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Siti Umaiyah

TRIBUNJOGJA.COM – Sampai dengan periode semester satu (Januari-Juli) 2018, kasus kekerasan terhadap Perempuan dan Anak yang tercatat di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menunjukan pengurangan.

Dari tahun sebelumnya sebanyak 471 kasus yang tercatat, di semester pertama tahun 2018 terdapat 210 kasus yang dilaporkan ke DP3AP2KB.

Mafilindati Nuraini saat ditemui Tribunjogja.com menjelaskan, mayoritas kasus yang terjadi lebih ke kekerasan psikis.

Baca: Pelecehan Seksual Hingga KDRT Dominasi Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan di Bantul

Selain itu, juga terdapat kekerasan fisik dan penelantaran.

“Mayoritas psikis, kedua fisik, dan yang ketiga penelantaran. Kalau di semester pertama terdapat 127 kasus yang menimpa orang dewasa, serta 83 yang menimpa anak-anak. Kalau tahun lalu, terdapat 296 kasus yang menimpa orang dewasa dn 175 menimpa anak-anak. Angka ini menunjukan penurunan,” katanya.

Mafilinda menjelaskan, berkenaan dengan adanya kekerasan tersebut, DP3AP2KB senantiasa melakukan pendampingan psikis kepada korban kekerasan, baik dewasa maupun anak-anak.

Dalam penanganan pihaknya juga bekerjasama dengan Dinas terkait, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, serta pedampingan hukum.

“Kalau sampai ke ranah hukum, juga kita beri pendampingan konselor hukum. Kita cek dulu apakah perlu pengobatan, lalu dari psikis kita lihat. Kita juga usahakan jangan sampai bagi korban KDRT bercerai, kita upayakan mediasi,” ungkapnya.

Mafilindati menjelaskan, saat ini di Kabupaten Sleman telah menyedikan aplikasi SIKPA (Sitem Informasi Kekerasan Perempuan dan Anak) yang bisa mempermudah bagi masyarakat untuk melaporkan jika terdapat kasus kekerasan pada Perempuan dan Anak di lingkungannya.

Baca: Hingga Juli, Tercatat Puluhan Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan di Bantul

“Kita sudah melatih baik dari Puskesmas, Polsek, Pelayanan Pendidikan, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak untuk menggunakan SIKPA jika memang terdapat kasus kekerasan. Ini mempermudah masyarakat jika di lingkungannya terdapat kasus-kasus yang terjadi pada perempuan dan anak,” terangnya.

Mengenai Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak, Mafilindati menerangkan dari 86 desa yang ada di Kabupaten Sleman, setidaknya sudah ada 69 yang memiliki Satgas.

“Kita juga ada Ketahanan Kesejahteraan Keluarga (K3) yang berfungsi sebagai penguatan fungsi keluarga, ada pula konseling Pusat Pembelajaran Keluarga Keluarga Sejahtera yang Sembada (Puspaga Kesengsem) yang bisa melakukan konseling kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved